bangunan ini terasa mulai sedikit goyah.

aku tidak tahu persisnya.

apakah karena tiang-tiang ini belum menjadi jalinan kuat, dimana dinding menyandarkan diri.

apakah tiang-tiang ini demikian berbeda dan mengambil jaraknya masing-masing.

apakah tiang-tiang ini saling dingin, atau saling meng-aku-kan diri.

atau masih saling menjajaki.

aku tidak tahu.

karena mungkin saja, tiang-tiang ini hanya saling tunggu.

ada saka-guru.

atau mungkin bukan pada tiang.

karena bangunan tidak melulu soal tiang.

harmonis, selaras tiap elemennya.

setiap entitasnya berpelukan.

mungkin sang atap tidak tepat memancangkan diri.

mungkin juga dia pongah di ketinggian.

mungkin tak sadar, ia di sana karena entitas lainnya.

padahal, ia gampang saja dijatuhkan.

mungkin lupa, atap itu menaungi.

bukan karena di atas, lantas menilik saja lubang-lubang di bawahnya.

aku tidak tahu persis.

apa harus mengakui, pondasi ini kurang kokoh?

apa pondasi bisa bilang, saya kehilangan arsitek, engineer, tukang bangunan itu?

harusnya tidak. ini bukan soal “tukang”!

pondasi adalah soal esensi. juga eksistensi.

inheren dengan rumah itu sendiri?

jadi?

aku tidak tahu persisnya.

sementara kita kadang lupa akan pelataran.

atau kadang malah ada yang mementingkan pelataran.

yang saya tahu: bangunan ini bukan soal “AKU”.

seperti katak yang dimasukkan dalam tempurung. frustasi karena tak bisa lagi leluasa menari. dia, yang dulu bisa hinggap dimana sukanya, singgah dimana perlunya. riang mnikmati hujan. bernyanyi meski tak cukup merdu.

dan, suara-suara syetan mengiangi gendang telinga, ngikik melihat keresahan yang kronis. resah oleh tanya yang tak kunjung beroleh jawab.

huwakakakak…lengking iblis menertawakan kepengecutan..para pecundang berbinar mata merasa akan bertambah personil. cwuiihh!!

sementara sang brahmana menyabda: teruskanlah kepakkan sayap, meski dalam sendirimu, dan dalam bayang jiwa-jiwa yang entah dimana… (fragmen 1)

Kau dan ia menyapa. Ia yang telah lewat saja di depanmu dengan senyum terindah. Kau membalas senyumnya.

Esoknya ia menghiasi wajahnya dengan bedak tipis. Ia menjadi ingin datang padamu sesempurna yang ia bisa. Dan kau menyambut tangannya.

Kemudian kau yang mendandaninya, menjadikannya sesempurna penciptaannya. Kau bilang, beginilah seharusnya dirimu.

Tapi kau hilangkan kesadarannya. Dengan pemujaanmu…

Kau harus berani mengambil risiko. Kita hanya bisa memahami keajaiban hidup secara penuh ketika mengizinkan yang tak terduga untuk terjadi.

Setiap hari Tuhan memberikan kita matahari-dan juga satu momen, saat kita berkemampuan mengubah segala yang membuat kita tak bahagia. … ketika seluruh kekuatan gemintang menjelma sebagian dari diri dan memungkinkan kita melakukan keajaiban.

….
Ya, kita akan menderita, bertemu waktu-waktu sulit, dan mengalami banyak kecewa–tapi semua ini hanya sementara; jejaknya tak kekal. Dan suatu hari kelak, kita akan menoleh ke belakang dengan kebanggaan dan keyakinan akan perjalanan yang telah ditempuh.

Betapa menyedihkannya orang yang takut mengambil risiko. Mungkin orang ini tak akan pernah kecewa atau terdisilusi; mungkin ia tak akan menderita selayaknya orang-orang yang mengikuti mimpi mereka. Tapi ketika orang itu menoleh ke belakang–ada saatnya orang-orang mesti melihat ke belakang–maka ia akan mendengar hatinya berkata, “Apa yang telah kau lakukan dengan semua keajaiban yang pernah Tuhan berikan padamu? Apa yang telah kau lakukan dengan semua bakat yang dianugerahkan Tuhan padamu? Kau mengubur dirimu dalam sebuah gua karena takut kehilangan semua itu. Jadi inilah yang kai warisi: kepastian bahwa kau telah menyia-nyaikan hidupmu.”

Betapa menyedihkan orang-orang yang mesti menyadari ini. KArena saat akhirnya bisa memercayai keajaiban, momoen magis dalam hidup mereka telah berlalu.

by: Paulo Coelho

saat menginjakkan kaki di sini, ada yang spontan menyeruak. sebuah nama mengukir diri dengan indahnya. ingatan begitu cepat menghadirkan berbagai kenangan di masa lalu.

ada rindu yang sangat, dan keikhlasan hati untuk melepas kepergiannya sajalah yang menenangkan. selalu saja begitu.

tangan jatuh pada gundukan tipis tanah yang sedikit dihiasi rerumputan liar. keheningan segera tercipta. “semoga kau bahagia…”

adakalanya sesak menghampiri. teringat sudahkah kebahagiaan dirasakannya dulu. karenaku. bersamaku. aku tak sempat menanyakannya.

tapi kau tahu, aku sangat mencintaimu…

* kebumen, di atas pusara-nya…

kau tidak akan mampu melukiskannya. atau sekedar mencoretkan tintamu di selembar kertas punyamu. tak ada hal yang bisa kau raba tentangnya. kemarin, sekarang atau pun esok.

ketika kau hadirkan dia, harusnya kau paham, ada dia, karena kau-manusia yang tak sempurna. bukan sosok yang memberimu hal berlebih, karena dia juga manusia sederhana. hingga kau tak bisa berbanyak mimpi.

kini, ketika dia melangkah sepi, kau pun harusnya ingat, awalnya ia abai padamu beribu kali. jadi, jangan pernah …  maaf. (***)

Sebuah Sajak Sederhana yang Barangkali Lebih Baik Jika Aku Sebut Saja Sebagai Surat Kemudian Merelakannya Pergi Agar Suatu Petang Kau Menemukannya di Depan Pintu Sedang Menunggu Kau Pulang Kerja, Saat Kau Sangat Membutuhkan Sesuatu untuk Dibaca Sesaat Sebelum Cepat Istirahat untuk Segera Segar Bangun Pagi Lagi dan Kembali ke Kantor yang Dipenuhi Orang-Orang yang Tak Mau Memahami Kau, Orang-Orang yang Cuma Mampu Membuat Kau Semakin Tersiksa Merindukan Aku…..

 

Selengkapnya di:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/10/03000017/sajak-sajak

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.