saat menginjakkan kaki di sini, ada yang spontan menyeruak. sebuah nama mengukir diri dengan indahnya. ingatan begitu cepat menghadirkan berbagai kenangan di masa lalu.

ada rindu yang sangat, dan keikhlasan hati untuk melepas kepergiannya sajalah yang menenangkan. selalu saja begitu.

tangan jatuh pada gundukan tipis tanah yang sedikit dihiasi rerumputan liar. keheningan segera tercipta. “semoga kau bahagia…”

adakalanya sesak menghampiri. teringat sudahkah kebahagiaan dirasakannya dulu. karenaku. bersamaku. aku tak sempat menanyakannya.

tapi kau tahu, aku sangat mencintaimu…

* kebumen, di atas pusara-nya…

kau tidak akan mampu melukiskannya. atau sekedar mencoretkan tintamu di selembar kertas punyamu. tak ada hal yang bisa kau raba tentangnya. kemarin, sekarang atau pun esok.

ketika kau hadirkan dia, harusnya kau paham, ada dia, karena kau-manusia yang tak sempurna. bukan sosok yang memberimu hal berlebih, karena dia juga manusia sederhana. hingga kau tak bisa berbanyak mimpi.

kini, ketika dia melangkah sepi, kau pun harusnya ingat, awalnya ia abai padamu beribu kali. jadi, jangan pernah …  maaf. (***)

Terimakasih

  • 9,617 hits