bangunan ini terasa mulai sedikit goyah.
aku tidak tahu persisnya.
apakah karena tiang-tiang ini belum menjadi jalinan kuat, dimana dinding menyandarkan diri.
apakah tiang-tiang ini demikian berbeda dan mengambil jaraknya masing-masing.
apakah tiang-tiang ini saling dingin, atau saling meng-aku-kan diri.
atau masih saling menjajaki.
aku tidak tahu.
karena mungkin saja, tiang-tiang ini hanya saling tunggu.
ada saka-guru.
atau mungkin bukan pada tiang.
karena bangunan tidak melulu soal tiang.
harmonis, selaras tiap elemennya.
setiap entitasnya berpelukan.
mungkin sang atap tidak tepat memancangkan diri.
mungkin juga dia pongah di ketinggian.
mungkin tak sadar, ia di sana karena entitas lainnya.
padahal, ia gampang saja dijatuhkan.
mungkin lupa, atap itu menaungi.
bukan karena di atas, lantas menilik saja lubang-lubang di bawahnya.
aku tidak tahu persis.
apa harus mengakui, pondasi ini kurang kokoh?
apa pondasi bisa bilang, saya kehilangan arsitek, engineer, tukang bangunan itu?
harusnya tidak. ini bukan soal “tukang”!
pondasi adalah soal esensi. juga eksistensi.
inheren dengan rumah itu sendiri?
jadi?
aku tidak tahu persisnya.
sementara kita kadang lupa akan pelataran.
atau kadang malah ada yang mementingkan pelataran.



SKETSAKITA