Menaklukkan Waktu?
Dan Lembaga Auditor

 

Tidak mudah mendapatkan keyakinan bahwa aku cukup kuat untuk terus melangkah menuju Bank Sentral di antara sekian banyak sorotan tajam terhadap lembaga negara itu. Apalagi keberanian untuk bermimpi muluk bahwa aku akan bisa melakukan ”sesuatu” di sana, kelak. Sama sekali tidak mudah. Perdebatan dengan diri sendiri telah dan masih ku lakukan. Seiring dengan setiap pemberitaan tentang perkembangan kasus di Bank Sentral itu sendiri.

 

Tak perlu orang mengerti mengapa aku memusingkan motivasiku sendiri melamar ke sana. Karena mudah untuk berpikir bahwa seorang yang ingin bekerja di Bank Sentral itu adalah—salah satu yang penting—untuk sebuah pendapatan dan prestise yang tinggi. Ya, pegawai BI termasuk paling elit di negara ini. Faktanya mungkin memang demikian, bisa digeneralisir begitu.

 

Tetapi bukankah kerja tidak melulu tentang pencapaian-pencapaian tersebut? Pencapaian materi, popularitas, prestise, atau bahkan prestasi. Kerja tidak melulu tentang pencapaian pribadi, atau bahkan bahwa kerja tak seharusnya membuat kita teralienasi dengan pekerjaan itu, dengan diri kita, atau orang di sekitar kita. Namun, kerja juga tentang upaya untuk melakukan ”sesuatu” untuk orang lain, untuk orang yang lebih banyak. Jika ada kemungkinan bisa, kenapa kita tidak berusaha?

 

Jadi, benarkah aku lebih termotivasi oleh ”kepentingan-kepentingan” pribadi, obsesi pribadi? Mungkin. Tapi jika bertanya maka seharusnya aku pun diberi kesempatan untuk menjelaskan. Dan mungkin memang tak cukup penting, toh itu lebih pada keyakinan masing-masing.

 

***

 

Dan kemarin, aku baru memulai tahapan awal—seleksi tertulis tentang kemampuan Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Potensi Akademik yang kusyukuri tingkat kesulitannya—menuju Lembaga Auditor. Ternyata di GOR UNY yang pengesahannya oleh Presiden didemo oleh banyak mahasiswa ini, aku bertemu dengan beberapa teman FH dan banyak lainnya yang tidak ku kenal.

 

Seleksi ini diikuti oleh kurang lebih 28 ribu orang, untuk hampir 200 posisi yang ditawarkan. Demikianlah. Tapi tidak usah bicara tentang hal tidak menarik itu. Lebih menarik bicara tentang soal-soal yang harus dihadapi peserta ujian. Untuk hari pertama, tes terdiri dari 150 soal Bahasa Inggris selama 120 menit. Dan setelah jeda beberapa menit, tes kemampuan Bahasa Indonesia pun menanti. Meskipun mengenai bahasa ibu sendiri, soal-soal ini ternyata tak cukup mudah. Tapi aku tetap pulang lebih awal, tak cukup sabar menunggu yang lain. Dan karena aku mengantuk, dua setengah jam tidur malam sebelum ujian rupanya minta ditambah sore harinya.

 

Hari esoknya, Tes Potensi Akademik, yang terdiri dari 90 soal kemampuan verbal, 90 soal menghitung, dan 75 soal penalaran. Aduh, sulit ternyata. Bahkan hampir 20 soal menghitung kujawab dengan tanpa melihat pertanyaan. Bagaimana mungkin jawaban diberikan tanpa tahu pertanyaan yang diajukan, akan benar kecuali karena keberuntungan! Tapi setidaknya 50-an soal benar-benar kuhitung. Dan soal penalaran gambar tiga dimensi, membuat mataku pusing!

 

***

 

Lembaga Auditor dan Bank Sentral, dua Lembaga Negara yang status satu sama lain sedang sedikit aneh. Atas hasil audit Lembaga yang pertama-lah, Lembaga yang kedua kemudian terperosok pada masalah hukum. Setidaknya dua kali, dan keduanya menjadi kasus besar, sangat kontroversial. Tetapi, ada beberapa hal baik yang kupercaya pada keduanya. Meskipun beberapa hal negatif pun telah kutahu.

 

Memang, keyakinan bahwa kita tetap bisa teguh memegang atau setidaknya memperjuangkan prinsip yang diyakini adalah penting, dan menjadi suatu keniscayaan. Tapi adakalanya—ketika misalnya aku, tidak begitu paham dengan sesuatu—bukankah kekuatiran, kesangsian adalah hal yang wajar. Dan meski demikian, bukankah kita harus tetap berani mengambil sikap, memilih ya atau tidak. Setidaknya adanya sebuah konsep—pemahaman, menjadikannya cukup layak dihargai. Dan bukankah ketakutan adalah kebodohan awal yang akan membodohkan semuanya. Begitu kata Sang Maestro Pram.

 

Jadi setidaknya, aku harus meyakinkan diriku bahwa minimal aku mempunyai keberanian yang cukup untuk mengikuti tahap demi tahap seleksi-seleksi ini. Sebagai sebuah proses dan sekaligus terus belajar dan meyakinkan diri. Mungkin memang baru inilah yang-kubisa-lakukan. Tak setiap kita mempunyai cukup pilihan. Tetapi kita harus memilih di antara yang sedikit itu.(***)

23 Februari 2008

 

Kegilaan dan Seekor Katak

Mungkin kau berpikir seorang telah tak normal, jika kau mengukurnya berdasar segala sesuatu yang dianggap sebagai normal, karena ia telah berkebalikan dengan mereka yang ”normal.” Telah gila, jika kau melihatnya menyimpang dari keumuman orang-orang ”waras.” Tapi Foucault bilang, orang normal tidaklah didefinisikan terlebih dulu, dan setelahnya baru abnormal, yaitu dengan mempertentangkan terhadapnya. Seharusnya ”normal” didefinisikan melalui ”abnormal.” Ataupun ”waras” oleh ”konsep gila.”

 

Apapun itu, tak ada sesal yang terpikirkan olehku saat keluar dari pintu putar Gedung Megah di Simpang Lima itu. Selain bahwa aku kurang tegas, dalam hal skandal BLBI dan tentang CSR. Pikiran dan perasaanku terasa begitu ringan, seperti bebas meloncat-loncat di arakan mendung yang mengantar ke persinggahanku di kota itu. Jika pun kemudian bersedih malam harinya, adalah karena sebuah sesal atas yang lain.

 

Pertanyaan-pertanyaan menyambutku di Jogja, dan mengalirlah sebuah cerita yang dengan riangnya kusampaikan (dan kau bilang, aku gila). Tetapi menjadi berbeda ketika di Kebumen, saat seorang perempuan paruh baya telah sedemikian menggantungkan harapannya padaku… Dan kenapa aku menjadi cengeng begini. Kenapa beberapa organ ini menjadi berontak berhari-hari.

 

Sepanjang hari di Kebumen, seperti biasa, yang terjadi adalah kebingungan seorang terpelajar yang kembali ke kampung halamannya tetapi merasa tak bisa apa-apa. Gagap akan realitas yang ada. Saat teori-teori yang sedikit dipelajarinya tak cukup solutif, bahkan bungkam. Seperti katak yang terlalu lama sembunyi di tempurung kelapa, keluar dan takjub betapa dunia luar begitu berwarna, hitam-putih-merah. Dan lihatlah, sebuah kampung kecil yang sedari dulu nyaris tak bergeming dari kesahajaannya yang menghanyutkan. Sebuah komunitas orang-orang yang agamis, dengan kehidupan ekonomi yang bersumber pada pertanian, dan pendidikan sekolah menengah atas yang masih tak cukup banyak.

 

Akhirnya, sebuah buku ’hadiah ultah’ menjadi pelipur yang semakin memicu pemberontakan itu. Tapi sungguh, sebenarnya ia tak mengubah apapun selain semakin menebarkan kebusukan yang sudah kutahu sebelumnya. Beberapa hal baru hanya memperkuat sebuah tesis ”dosa warisan” yang kususun secara acak-acakan. Tesis yang dibangun dengan tak terikat secara kaku pada sebuah perspektif dan metodologi apapun. Dan karenanya membutuhkan perspektif historis filosofis, tinjauan politik, hukum, sosial, ekonomi, budaya dan seluruh aspek kehidupan, untuk menuju sebuah sintesis sempurna tak terbantahkan. Bahwa sebuah dosa besar telah dilakukan secara massal dan sangat nyata.

 

Lantas, apakah sistem syarafku sendiri juga akan melakukan kudeta? Menjadi tak cukup ”waras” oleh pikiran-pikiranku sendiri, yang gila. Dan kemudian perlu untuk dikuatirkan, diawasi.(***)

 

Pertengahan Maret ’08