Aku ingin bertanya, mengapa ia—si sakit itu—diam. Mengapa ia, di atas lantai kamar, memeluk dirinya sendiri. .

***

 

Pertama kali aku melihatnya beberapa bulan lalu. Dia tersenyum menyapaku yang sedang iseng melintasi kosnya, tetangga baruku. Tapi ia tak memperkenalkan diri, begitu pun aku.

 

Demikian, hingga suatu malam aku melihatnya duduk di beranda kamar kosnya, berjaket, dan dengan sebuah buku tebal. Kurang lebih pada bulan kedua. Dan aku menyapanya. Sekedar ucapan selamat malam, karena aku baru saja pulang.

 

”Perempuan, bisakah aku minta bantuanmu?” Aku telah berlalu beberapa langkah ketika ia memanggilku. Dan ah, rupanya ia telah tahu namaku.

 

”Aku ingin merangkaikan huruf-huruf ini, di sana…” Matanya memandang pada sebuah arah. Dan, astaga! Jarinya menunjuk pada langit, dimana sebuah bintang terlihat lebih bersinar. Ini jelas lelucon, dia meledekku! Dan aku pergi begitu saja.

 

Hari esoknya aku mendengarnya bersin-bersin. Dan ia tak keluar seharian. Begitu juga hari berikutnya. Dan sehari berikutnya lagi. Barulah pada hari ke empat ia menyapaku. Berangkat kerja.

 

***

 

Jum’at pada minggu berikutnya ia mengulang lagi leluconnya itu. Merangkai huruf-huruf di langit malam yang bertabur bintang. Tak masuk akal! Dan esoknya, Sabtu dan Minggu, kamar kosnya dipenuhi suara bersin. Tak keluar rumah dua hari. Kemudian, Senin ketika ia harus berangkat, sebuah sapu tangan biru dibawanya.

 

***

 

Dan rupanya mimpi yang kuanggap bodoh itu masih diulang pada hari Jum’at minggu berikutnya. Aku menjadi penasaran. Hingga terpaksa kulihat ia malam itu. Tetap duduk di beranda, dengan jaket dan sebuah buku tebal yang telah berbeda. Lampu duduk di depannya cukup terang untuk membaca. Dan setelah berulangkali membalik halaman per halaman, lampu dimatikan, dan kemudian ia mendongak. Wajahnya menjadi sedikit murung. Agaknya bintang-bintang semakin berkurang jumlahnya yang dapat ia lihat.

 

Begitu berulangkali. Jika tak ada sebuah buku tebal di pangkuannya, mungkin aku telah menganggapnya benar-benar bodoh. Tapi mungkin itu buku ramalan bintang—bukan astronomi pastinya, atau novel ’bodoh’ tentang cinta yang memuakkan (tapi, adakah cinta yang—sungguh—memuakkan? Kurasa—mungkin—lebih pada manusianya.), atau tentang hal-hal absurd lainnya. Peduli apa, aku masuk kamar, tidur.

 

Paginya, masih terlalu dini, aku membuka pintu kamar dan langsung menikmati langit malam yang cukup cerah. Dan aku menjadi terkejut mendapatinya masih duduk di sana. Ah, pantas saja ia sakit di setiap pagi setelah aku melihatnya ’bermimpi’ di malam sebelumnya. Kemudian, ia memandangku sejenak, lalu masuk. Buku tebal yang ditinggalkannya begitu menggodaku untuk berjingkat ke sana. Tapi kuurungkan, masih jam setengah tiga pagi.

 

Dan benar, seharian ia tak keluar rumah. Bersin sepanjang waktu. Aku enggan menjenguknya. Biar saja, toh ada beberapa teman kosnya.

 

***

 

Kemudian malam berganti, minggu pun berganti. Dan ia kembali bermenung-menung di luar kamarnya, Jum’at berikutnya. Menikmati bintang malam dan udara dingin yang menggerogoti tubuhnya. Matanya terus saja memandangi langit, dengan pijaran-pijaran yang semakin hilang. Dan lewat separuh malam ketika aku mengundurkan diri—dari depan kamarku sendiri, ia masih juga duduk meringkuk.

 

Paginya—seperti hari sebelumnya jika ia melarutkan diri hingga dini hari—ia menjadi terlalu sering bersin-bersin. Tapi ia masih paksakan diri berjalan entah kemana hari itu, Sabtu. Ia tak menyapaku, dan aku tak menyapanya. Ia menunduk.

 

Tetapi menjadi sedikit aneh karena beberapa hari ini ia selalu duduk manis dalam ingatanku. Pada hampir setiap waktuku jika tak lagi berkutat dengan huruf-huruf, ia hadir dengan senyumnya. Hingga akhirnya, aku berniat untuk membawakannya vitamin C (dosis kecil saja—dosis yang terlalu tinggi seperti di iklan-iklan itu tidak terlalu baik), sebotol kecil madu dan mungkin seliter susu sapi jika aku sempat ke Lembah sana. Aku tak ingin membelikannya obat atau juga buah, toh ia hanya flu. Dan penyakit itu akan sembuh hanya dengan makan dan tidur—yang cukup banyak. Sementara vitamin C, madu, atau pun susu, lebih pada menjaga staminanya.

 

Dan sorenya, benar, aku membawakannya semua itu. Ia menyambutku di luar kamar, dengan senyum. Kemudian sengaja kutunggui, ia membuka bawaanku.

 

”Kau tak menghindari susu sapi kan? Sudah kuhangatkan baru saja. Minumlah…” Ia meminumnya, dengan sedikit madu yang dilarutkan ke dalamnya.

 

”Vitamin C itu sebelum makan ya, supaya lebih diserap.” Aku telah berniat pulang sebelum kemudian ia memanggilku.

 

”Maaf, boleh aku tahu namamu, perempuan?” Aiih, aku ke-Ge-eR-an rupanya.

 

”Ya, namaku Perempuan. Orang biasa memanggilku Puan…” Serasa wajahku memerah. Dan ia memandangiku lekat. Hah! Ini membuatku jengah.

 

”Boleh aku tahu kenapa kau lakukan sebaik ini, Perempuan?” ia bertanya.

 

”Aku tak ingin melihatmu sakit, itu saja.” Aku tak punya jawaban selain itu. Dan ia menunduk, berterimakasih.

 

***

 

Aku senang ketika ia tak sakit minggu berikutnya. Meski itu berarti aku tak melihatnya duduk di beranda pada malam Sabtu. Kurasa itu jauh lebih baik daripada mendengar bersinnya seharian. Karena suara itu menyebalkanku akhir-akhir ini, seolah memanggil-manggilku untuk menjenguknya.

 

Tetapi, agaknya ia tak suka melihatku begitu senang melihat keadaannya yang membaik. Tak suka kerianganku menyapanya di pagi hari saat ia berangkat kerja. Karena pada minggu berikutnya, ia lebih bodoh lagi. Dua malam berturut-turut ia bersedih menanti bintang-bintang yang tak kunjung menghiasi langit malam. Padahal sudah jelas, Sabtu siang ia sudah mulai sakit, apalagi Minggu siang. Dan benar.

 

Dan aku tak cukup tenang untuk tak menjenguknya. Dengan bawaan seperti sebelumnya—hanya jumlahnya sedikit lebih banyak—aku menjenguknya. Ia berada di dalam kamarnya, yang ternyata hanyalah sebuah busa tipis, seperangkat komputer, lemari pakaian, dan lebih banyak lagi rak buku. Satu hal menakjubkanku adalah susunan akuarium kecil dengan seekor ikan cupang berwarna biru berenang di dalamnya. Terletak di samping komputer yang diapit dua pot kecil Sanseveira yang masing-masing ditancapi kupu-kupu buatan, hitam dengan biru di sayap terluarnya. Agak mirip dengan yang kupunya.

 

Sanseveira katanya baik untuk mengurangi radiasi, dan polutan-polutan. Kau tentu saja tahu, banyak sekali tanaman itu di depan kamarmu…” Kulihat ia sedang duduk memeluk kakinya, berjaket dengan sebuah buku tebal bersampul hitam. Tentang Sejarah.

 

Dari wajahnya, aku tahu betul, flu-nya cukup parah. Bersinnya telah tergantikan batuk-batuk kering. Dan jemarinya yang sedikit bergetar tak cukup mampu ia sembunyikan dariku.

 

”Kau datang karena kasihan padaku, Perempuan?” Huh, pertanyaan bodoh. Jelas kalau pun aku kasihan, lebih pada kebodohannya itu. Tapi tidak.

 

”Aku ingin menjengukmu.” Ia diam.

 

Dan aku ingin bertanya, mengapa ia—si sakit itu—diam. Mengapa ia, di atas lantai kamar, memeluk dirinya sendiri. Mengapa ia tak mencoba berangkat menuju seorang dokter. Mengapa ia tak minum obat penyembuh atau setidaknya pengurang rasa sakit yang telah banyak beredar di apotik itu, entah palsu atau tidak. Mengapa ia diam saja, tak merintih-rintih, berdesis minta perhatian karena sakitnya itu. Bukankah memang seringkali orang sakit menjadi lebih manja. Tapi kenapa ia diam.

 

Seakan tahu apa yang sedang kupikirkan, ia berkata. Terpatah-patah ia bercerita, tentang betapa ia menyenangi malam, dan bintang. Tentang keyakinannya dapat merangkai huruf-huruf di atas sana. Orang bodoh, batinku.

 

”Tapi tidak kemudian berarti kau menjadi sakit kan? Kukira, seharusnya tidak. Kau menyenangi malam, tapi bodoh—kubilang, kalau kau kemudian menjadi sakit begini!” Aku heran, intonasi ucapanku mulai menaik.

 

”Aku paham. Tapi lihatlah, kau juga tahu, kekebalanku membaik. Ingatkah, awalnya, semalaman saja aku duduk di luaran maka tiga hari berikutnya aku sakit. Kemudian menjadi dua hari, sehari dan kemudian butuh setidaknya dua hari untuk menjadikanku sakit seperti sekarang…”

 

”Kau tahu obat untuk sakit flu, Perempuan? Bagaimana saat kau flu? Vitamin C-kah, minum susu, madu, obat…? Tidak. Kau hanya butuh istirahat. Diam dan rasakanlah bagaimana tubuhmu memanas. Kalau kau percaya, tubuhmu akan membentuk antibodi…dan kau akan sembuh sendiri…”

 

”Bodoh! (Aku menjadi marah) Bukan karena imun-mu menjadi lebih tahan. Tapi karena kau tidak peduli kan? Kau membuat pikiranmu tidak peduli atas rasa sakit. Karena kau selalu bilang, baik-baik saja. Kau membuat sistem syarafmu tak cukup baik merespon dinginnya udara yang biasanya membuatmu bersin-bersin, meriang … Kau juga membuat tubuhmu menolak semua sakit, sementara bagaimanapun sesungguhnya sakit…”

 

”Hmm… Kenapa merasa perlu untuk marah, Perempuan?” Dengan ketenangan yang cukup, ia bertanya. ”Kau menyayangiku?”

 

”Aku hanya tidak ingin kau berpikiran bodoh…” jawabku dengan meragukan diri sendiri.

 

***

 

Jum’at malam pada minggu berikutnya, ia menekuri bintang-bintang yang makin sedikit, menghilang beserta kerinduannya. Dan dari depan kamarnya ia beranjak beberapa meter, tepat di bawah langit.

 

”Lihatlah Perempuan, aku telah dapat merangkai huruf-huruf itu … Kemarilah …” Meski tak percaya, aku melangkah juga mendekatinya. Dan mengikuti arah telunjuknya, kupandangi langit dengan bintang yang hanya beberapa itu. Aku tak melihat huruf-huruf itu.

 

”Kau tak melihatnya bukan?” Aku tersenyum. ”Karena kau tak punya keyakinan untuk bisa melihatnya … Sementara adakalanya keyakinan itu lebih penting dari sekedar mempersoalkan absurditas mimpi itu …”

 

Dan esok harinya, ia tak kulihat seharian. Suara bersinnya juga tak memanggilku. Dan aku bertanya-tanya, mengapa ia diam? (***)

 

Jogja, 23 Februari ’08