… Dibukanya penutup kepala sang musuh yang telah terkapar itu. Dan betapa terkejutnya Hector. Seorang anak yang masih terlalu muda—bukan Achilles—yang telah memimpin pasukan Yunani. Lantas, Hector menancapkan pedang, anak itu tewas—mungkin sebagai ksatria, meski ceroboh.
Achilles meradang. Usai membakar mayat sepupunya, ia—sendiri, menuju alun-alun istana Sparta. Hector—yang sepulang dari perang telah memperkirakan penuntutan-balas ini—menghadapi kemurkaan Achilles yang kalap, membabibuta. Dan di hadapan Ayahanda, Ibunda, istri dan anak Hector, seluruh rakyat Sparta, Achilles menyeret Hector dengan keretanya. Dalam keadaan tubuh yang telah tanpa nyawa. Menuju tenda, dimana sepupu perempuan Hector meratapi perang itu.
Malamnya, sang Raja Sparta datang sendiri, memohon untuk membumikan mayat putranya. “Tidak ada seorang ayah yang mempunyai putra sebaik Hector…” Dan, Achilles pun menangis diam-diam, di depan mayat yang beberapa saat kemudian diserahkan dengan hormat kepada ayahandanya. Dan sebagai belasungkawa, perang pun dilarang di 12 hari berkabung itu.
Akhir cerita, Achilles pun mati dipanah Paris—adik Hector.
Begitulah, perang selalu menimbulkan korban. Bersalah dan tidak. Dan film “TROY” ini tidak jelas mendeskripsikan motif perang ini. Apakah melulu karena Putri Helena dari Sparta yang “diculik” Paris—pangeran dari Troya, seperti disebut film yang lahir jauh sebelumnya—”HELEN OF TROY.” Atau lebih karena kekuasaan, yang konon seringkali terlalu serakah. Dan ambisi purba untuk menaklukkan—menindas, dari Raja Yunani, Agamemnon. Tidak bisa diketahui dengan pasti. Tetapi perang, seringkali terlalu biadab.
Dan perang masih berlanjut dalam sejarah manusia hingga hari ini. Dalam berbagai bentuk. Di Timur Tengah, perang seperti suatu hal yang abadi. Melibatkan hampir seluruh dunia, dengan kepentingan masing-masing yang jelas ataupun terselubung. Jungta militer di Myanmar. Begitu pula di negara-negara miskin Afrika. Dan sebetulnya hampir di setiap negara, dalam bentuk perang yang abstrak. Yang terus menggerogoti dan mungkin tak terselesaikan.
Jika perang fisik melahirkan kemerdekaan suatu negara, tidak demikian dengan perang tanpa bentuk ini. Kemenangannya tak mensyaratkan hilangnya nyawa manusia. Karena kemerdekaan yang lahir adalah dalam bentuk kemerdekaan berpikir (termasuk berideologi, dan berkeyakinan), kemerdekaan berkarya, mencipta, atau apapun. Kemerdekaan dari pembungkaman yang dilakukan atas nama kekuasaan. Kemerdekaan ekonomi, dan lainnya kemerdekaan yang sudah selayaknya diperoleh setiap manusia, sebagai manusia.
Tetapi, kemerdekaan—apapun bentuknya—adalah suatu hal yang sangat mendasar. Dan karenanya mahal. Dan harus diperjuangkan. ***
Awal 2008


2 comments
Comments feed for this article
February 12, 2009 at 11:13 pm
Tri
Sangat mengharukan
Piss
————–
haru. bisa dijadikan sebagai awal untuk merenungkan “substansi” yang tersurat, maupun tersirat. dari sebuah tulisan. atau dari “tulisan” yang bisa kita baca, dimanapun.
tapi terimakasih, Tri…
March 2, 2009 at 4:38 pm
elreally
wah kebalik tu, helen sebenarnya dari sparta yang diculik pangeran paris dari troy..
————-
baru ku baca lagi deh, dan mmg terbalik… (gak valid ya)