14 April 2008, Jogja, setelah jam delapan pagi…

Mungkin Tangan Tuhan-lah yang telah menggariskan ini untukmu. Begitu kata seorang teman pada Perempuan, kemarin. Dan ia kira persoalannya juga di situ. Bahwa Perempuan itu tak cukup mampu mengerti “kuasa” tersebut, kali ini. Benarkah memang Kuasa, atau kuasa? Ia tak ingin berpikir ke mana-mana. Tapi satu hal, yang diyakininya adalah Ia mencintaiku, dan Ia paham akan apa yang kulakukan. Namun jelas, Ia juga paham apa yang terbaik untukku. Ya, bahwa memang begitulah yang terbaik.

 

Tak ada buliran bening di matanya. Ketika ia tahu, beberapa temannya telah mendapat pemberitahuan “nilai”. Ia pun telah berpikir tentang kemungkinan ketaklulusannya, tapi ia baik-baik saja. Hanyalah ketika suara seorang perempuan paruh baya terdengar di telinganya, ia tak cukup kuasa. Perempuan kedua itu mengkhawatirkan keadaannya. Pulanglah, Nak…Biar Ibu tahu keadaanmu… Ah, suara itu… Kemudian beribu perasaan dan pikiran memenuhi diri Perempuan. Maafkan aku, Ibu…

 

Setiap mata yang tahu kabar itu menimpanya, memandangi Perempuan, seolah dengan kuatir. Tapi lebih banyak yang “mempertanyakan.” Dan ia enggan membahasnya. Bukan karena ia tak mau bersedih-sedih. Bukan ia ogah menerima “hasil” itu. Tapi ia sedang sibuk dengan pikirannya. Pikiran yang dipenuhi dengan tanda tanya saja. Pikiran yang kemudian tak cukup mampu mewadahi setiap pertanyaan yang diajukannya sendiri, apalagi untuk menjawabinya. Sel-sel di otaknya tak cukup mampu menalar. Aku bisa menerima jika kau bilang ini adalah nasibku, ujian untukku. Ini pun bukan berarti aku menegasikan Kuasa itu. Tapi tunggulah, aku hanya ingin bisa menerima dengan akalku. Bukan apa. Tapi biarkan aku memenunginya. Kau tak perlu menggangguku dengan segala analisis yang kau tawarkan itu! Sergahnya galak. Atas dirinya sendiri, yang lain.

 

***

 

Kemudian terjadilah dialog antara ia dan dirinya sendiri. Sebuah perdebatan.

 

Sungguh, bukanlah ini tentang kesombongan, keterlaluPeDean, atau bahkan ketakmauan menerima apa yang mereka sebut garis nasib. Maafkan aku yang tak cukup mampu… Tapi percayalah, aku baik-baik saja. Dan ini bukanlah seperti yang kau anggap. Tunggulah sebentar, jangan terlalu cepat menarik simpulan. Biarkan aku memikirkannya sejenak. Kau tahu rasanya, apa yang kupikirkan?

 

Jika seorang mahasiswa dalam ujian pendadarannya, telah memperkirakan, berdasar penulisan hukum yang disusunnya dengan perjuangan yang tak mudah dan telah di-acc dengan nyaris tanpa catatan, oleh seorang dosen yang dikenal cukup perfeksionis. Dan proses pendadaran dimana ia bisa mempertanggungjawabkan karya kecilnya itu, bahkan jika dikontekstualisasikan. Apakah tak cukup beralasan jika ia berharap sebuah hasil “A” dari perjuangannya itu?

 

Kau bilang, ya, cukup beralasan. Nah, ternyata saat diumumkan nilai itu, ia hanyalah mendapat nilai “D”…Bagaimana perasaannya? Kau bilang, kecewa. Bagaimana pikirannya? Dan kau diam. Ia tak spontan berteriak memprotes, tapi salahkah jika ia ingin mencoba mengerti? Ia sedang bertanya, mengapa “D” dianggap layak untuknya?

 

Tapi itu tentang pendadaran. Ini tentang “pendadaran” yang lain. Penilaiannya lain. Tentu saja berbeda. Kau bilang demikian. Dan ya, aku tahu itu. Tapi memangnya, apa bedanya? Yang jelas, dibutuhkan orang “baik”, bukan orang “gila” sepertimu! Bukan orang yang dengan terang-terangan melanggar “kode etik pendadaran” sepertimu!! Jawabmu sengit sekali. Kau mengingatkanku, apa-apa yang terjadi dalam “pendadaran” itu. Tentang kegilaan yang kulakukan dengan sadar, secara terbuka di bawah pandangan belasan orang yang mungkin tak biasa begitu. Tentang kelancanganku. Tak ada yang mau diserang meski kesalahan telah terlalu gamblang. Dan … Dan aku ingin memafhuminya. Karena “hanya” itulah yang bisa membuatku sedikit lebih mengerti. Setidaknya sepermiliar dari sel-sel itu telah sedikit mencoba mengerti.

 

Tapi kemudian aku ingat, “nilai” itu seharusnya disampaikan langsung, atau diumumkan secara transparan. Bukan dengan cara ini. Tunggu saja, mungkin akan segera terpampang namamu dalam daftar ketaklulusan, katamu nyinyir. Tapi setidaknya kau telah diberitahu bukan? Hanya itu yang kamu inginkan kemarin kan?

 

Lagipula, mungkin kau tak cukup belajar. Ah, jika kau merekamnya, takkan mungkin kau bilang begitu. Terlalu kasat. Tak terbantahkan, jika kau memperdengarkannya lagi. Bukankah pendadar itu juga bilang demikian. Kalau begitu, ini memang berbeda, kau bilang. Tak cukup seorang yang belajar, tapi tak tahu “etika” sepertimu!, lanjutmu.

 

Tidakkah kau berpikir bahwa kau sombong?, tanyamu kemudian. Tidak, sama sekali tidak. Dalam setiap perjalanan yang kutempuh, aku telah sering mengingatkan diriku atas itu, dan memang tak cukup alasan bagiku untuk sombong. Sombong atas siapa, atas apa? Kau bahkan bisa cari tahu sendiri tentang itu, kalau kau tak cukup mempercayaiku. Satu-satunya kesombonganku dalam hal ini, kukira hanyalah bahwa aku sombong padanya. Bahwa aku tak cukup tertarik dengan apa yang ia tawarkan, karena aku justru mencari yang lain.

 

Ah, jika begitu, sudahlah. Tak perlu kau pikir lagi. Bukankah hingga kemarin, kau masih sangat meragu bagaimana jika kabar ‘baik’ kau terima. Kau begitu takut, dan kau justru tertekan oleh proses ini. Bukankah kegilaanmu adalah akumulasi perangmu sendiri. Kau juga bilang ogah, jika kau berada di bawah kuasanya, yang menurutmu andil, sementara memang ia telah terpilih. Dan tentu IA tahu itu.

 

Kau sedikit melunak. Kau dan aku menyudahi.

 

***

 

Masih 14 April 2008, menjelang tengah hari…

Tak ada yang ia sesali, setitik pun dari sekian prosesnya. Bahkan ketika akhirnya ia harus membayarnya, kini. Dengan sebuah harga mahal.

 

Ia tak terpelanting dari langit, karena memang ia tak melayang terbang ke sana. Ia juga tak perlu bangun, seolah telah bermimpi hingga kemudian disadarkan harus bangun menatap realitas yang terjadi. Ia tak jatuh karena ia telah cukup berhati-hati sejak awal langkahnya. Ia tak mengatakan bahwa …

 

Kemudian, Perempuan itu mengangkat handphone ajaibnya. Ia mengabari “bapak”nya. Orang yang di pertemuan terakhir sebelumnya, menatapnya lekat dan berkata, menaruh sekian besar kepercayaan sekaligus harapannya. Tuut tuut… (ringbacktone yang pernah membuatnya tersenyum saat menghubungi Bapak itu ternyata telah tak ada). Pak, saya tidak lulus… Suara di seberang sana sejenak terhenti. Dan kemudian dengan suara sedikit berbeda, ia bertanya, mempertanyakan. Perempuan pun bercerita, sedikit, berkejaran dengan waktu sang dosen yang akan segera memasuki ruang perkuliahan, lima menit lagi. Hingga kemudian, keluarlah komentar dari lelaki itu, suatu hal yang berbeda. Apakah…? Setahu saya tidak, Pak… Dan… Ya, saya memahami apa yang kau pikirkan. Tapi kau jangan larut ya, jangan berpikir bahwa ia-lah yang terbaik. Tidak. Saya yakin, akan ada yang lebih baik, terbaik untukmu nantinya. Kau mampu… (dan beberapa kata lainnya). Oya, beri kabar terus ya… Terimakasih, Pak…

 

Perempuan itu jauh lebih tenang. Dituliskannya beberapa pesan singkat, ke beberapa orang yang juga mempercayainya. Message sent.

 

Kemudian, berangkatlah ia. Ke sebuah tempat yang masih juga dikunjunginya. Dan menyampaikan kabar pada seorang teman baru yang dikenalnya. Kemudian kembali pulang, dan mengabari temannya yang lain yang kemudian memandanginya lama. Mungkin menduga-duga apa yang sedang dirasakannya. Aku baik-baik saja, ucapnya dengan tersenyum, pada temannya itu. Ya, memang tak ada yang berubah.

 

Seorang yang lain berkata, ingatkah, kau pernah bilang bahwa kau merasa “pendadaran” kemarin seperti sebuah formalitas saja. Bahwa kau merasa seolah telah ada kejelasan, entah jelas dicoret entah jelas lulus. Feeling itu—sesuatu yang jelas itu—mungkin benar. Yang salah hanya prediksi kejelasan itu, bahwa ternyata kau justru tak lulus.

 

***

 

Jogja, 15 April 2008, pagi menjelang siang…

Pak Pos datang, menyampaikan sebuah surat yang dipesannya untuk segera dikirimkan. Dibukanya, dan kemudian dibacanya keras, sambil sesekali tertawa tipis. Jangan bikin trenyuh gitu to, kata seorang temannya. Ia telah tahu isi surat itu, kemarin dibacakan oleh ibunya. Tapi ia bilang, ingin melihatnya. Dan sekarang memang telah di tangannya. Hanyalah selembar kertas ber-kop, tertanggal seminggu sebelum kemudian sampai di rumahnya, dan seperti telah diduganya. Terlalu sederhana untuk sebuah proses yang sedemikian panjang. Terlalu sederhana untuk bisa menjelaskan sesuatu yang diharapkannya. Dan demikianlah, ia memang tak mendapat penjelasan apapun. Tapi ia sudah memafhumkan, semampunya.

 

Dan kemudian, ia beranjak dari memikirkannya. Sudah cukup. Stop. Meski akalnya tetap tak cukup mampu menalar semua itu. Tapi ia akan melupakannya. Dalam pikirannya, keras ia berkata, “AKU TELAH MENANG!” Ya, ia merasa, ia berpikir tentang sebuah kemenangan yang lain. Terlalu banyak hal baik dari ketaklulusannya itu. Dan terlalu banyak hal baik yang menantinya, esok. Ia berharap begitu. Ia yakin itu. Sebuah senyum kembali menghiasi harinya, sekarang dan esok. Semoga…(***)