Perempatan, menjelang jam dua belas malam,
Apa yang kau cari?, tanya seorang bapak kepada anak muda yang selalu ditemuinya berdiri di perempatan itu. Pada setiap malam, sebelum jam sebelas.
Hanya jalan ke arah sana yang dibatasi dengan jelas, agar tak terjadi arus balik pada satu jalan, Pak, kata si anak muda, yang kali itu berkaos hitam bertuliskan “?” Bapak tua sedikit mengernyit. Diperhatikannya kaki pemuda itu. Bersandal jepit dan ah, tentu saja menyentuh tanah, batin si bapak tersenyum. Geli dengan pikirannya sendiri.
Bukankah tak ada yang berubah dari jalan itu, anak muda. Setiap harinya juga begitu. Tapi kenapa setiap malam kau kemari memperhatikannya?
Ketiga arah yang lain tak ada pembatasnya ya Pak…
Ya. Batas antara yang menuju perempatan dan yang berbalik dari sana tak begitu jelas. Tapi masing-masing pejalan telah paham jalan mana yang boleh dilaluinya. Jadi, hanyalah di waktu-waktu sibuk, jalan ini menjadi penuh dan sedikit semrawut.
Dan pada jalan yang satu itu, meskipun jelas pembatasnya, tapi kemudian yang terjadi adalah kemacetan. Begitu, Pak?
Pada jam tertentu memang begitu. Kenapa?, tanya Pak tua.
Pada ke semua jalan itu, tak bolehkah pejalan berbalik arah ke ujung dari mana ia memulai?, tanya si pemuda kemudian.
Jika ada yang berbalik arah pada ketiga jalan itu, maka kesemrawutan jalan akan semakin tak terkendali. Kecelakaan bukan tidak mungkin akan terjadi. Dan si pebalik-arah tadi akan dipersalahkan. Bukankah semua sudah tahu itu, anak muda? Pak tua heran.
Dan jika pebalik-arah mengambil risiko itu, maka ia telah merugikan orang lain. Begitu, Pak? Akhirnya ia memang tak mungkin mengambil risiko itu. Meski ia yakin tak akan mencelakakan orang lain?
Ya, karena ia tak boleh egois, ujar Pak tua.
Mengapa di malam larut, dengan jumlah pejalan yang tak seberapa, kesemrawutan yang sepi juga terjadi, Pak? Pemuda melirihkan suaranya.
Mungkin karena masing-masing berpikir, jalanan sepi, keadaan aman, tak ada polisi…, Pak tua pun tak kalah lirih.
Hmmm, pemuda hanya mendeham. Pak tua mengamati pemuda di sampingnya. Garis wajah yang teguh, dengan lekuk mata yang sedikit menjorok, dan rahang yang mengeraskan dirinya. Kemudian ditawarinya sebatang rokok yang ditolak dengan santun oleh pemuda.
Terimakasih. Saya tak merokok, Pak…
***
Perempatan, esok malamnya, jam dua belas kurang seperempat…
Pak tua tertegun, seorang di sebelahnya tampak seperti pemuda yang ditemuinya malam sebelum-sebelumnya. Terutama redupan mata yang teguh itu, dan seulas senyum santun yang menghiasi wajahnya ketika Pak tua menyapa. Tetapi bagaimanapun ia berbeda. Karena garis wajahnya lebih lembut. Ya, ia perempuan.
Nduk, sedang apa di sini?, sapa Pak tua kemudian.
Jalan ini telah sepi ya, Pak, gumam perempuan itu.
Maaf, nduk. Tak baik jika kau di sini malam begini. Bukan Bapak menilaimu tak baik. Tapi banyak orang lain yang akan menuduhmu begitu. Pulanglah, nduk…
Kenapa kita kuatir dinilai tak baik oleh orang lain, Pak? .
Nduk…, banyak di antara kita tak bisa berpikir adil. Kau perempuan… dan keluar malam selarut ini bisa dianggap pelacur, bujuk Pak tua.
Hmm, kenapa dengan keperempuanan saya, Pak? Kenapa mereka seolah menilai najis si pelacur saja? Tak ada bedanya hidung belang yang datang menikmatinya kan, Pak?, ia tak bergeming.
Ah, nduk…jangan perdebatkan ini.
Bapak kuatir juga nanti disangka hidung belang? Hehe…becanda, Pak. Maaf…
Hening beberapa lama.
Saya akan pulang, Pak… Nanti, jika saya telah menemukan yang saya cari.
Apa yang kau cari, nduk?
Tak setiap ketakteraturan itu semrawut kan, Pak? Dan saya adalah ketakteraturan itu. Saya mencari ia yang tak menganggap ketakteraturan itu sebuah masalah yang harus dieliminir dari hukum keteraturan yang diberlakukan.
Kamu bicara apa, nduk? Pak tua heran.
Ya, Pak. Saya pulang. Malam, Pak… dan ia beranjak.
***
Esok malam berikutnya, dan esoknya lagi, pada perempatan jalan…
Makhluk itu datang lagi.
Nduk, apa lagi yang kau cari?, sapa Pak tua spontan.
Tidak, Pak. Saya hanya ingin bilang, pada setiap jalan, yang menghadirkan keteraturan pada hampir setiap waktunya. Bahwa saya telah membayar dengan harga yang sangat mahal, atas ketakteraturan saya. Atas harapan saya yang terlalu besar, akan ia yang bisa menerima ketakteraturan, dan tidak berpikir harus mengeliminirnya. Bahkan harga ini nyaris terlalu mahal… Pak tua memperhatikan kedua mata itu. Masih seperti ketika pertama kali ditemuinya.
Dan kau telah memilihnya, nduk…
Jalan itu terlalu angkuh, Pak… Terlalu keras. Ia merasa telah meleburkan saya menjadi debu. Ia bahkan lupa debu akan terus menghiasi setiap bagiannya…
Maaf, nduk… Tapi sudahkah selesai kau sampaikan? Jika sudah, pulanglah, nduk… akan lebih baik jika kau di rumah…
Saya akan pulang, Pak… Mungkin saya tidak akan datang lagi, pada perempatan ini… mungkin saya akan datang ke jalan lain. Tetap dengan harapan yang sama. Selamat malam, Pak…
Pak tua memperhatikan langkah seorang yang terlalu tak disangkanya itu. Akan kemana kah ia nanti. Ketakteraturan itu.
***
Dan kemudian, siang esoknya. Jam sebelas, pada jalan yang lain. Makhluk Hawa itu terlihat berjalan menekuri setiap bagian dari jalanan yang dilangkahinya. Panas matahari menimpanya tanpa belas kasih, begitu pun asap knalpot kendaraan yang berseliweran, mewah atau pun yang telah banyak usangnya. Suhu mencapai 37 derajat Celcius, sama dengan suhu tubuhnya. Tetes keringat mulai berjatuhan di keningnya, dan sepasang mata di bawahnya mereaksi. Ia harus menghentikan langkahnya, duduk pada bebatuan di pinggir jalan. Menyelonjorkan kaki di tengah keruwetan jalanan menjadikan para pejalan tertarik menoleh sejenak memandangnya. Aneh, atau mungkin seperti orang gila. Tapi ia tak peduli.
Seorang bapak tukang becak menawarkan jasanya, dan ia menggeleng. Tetap duduk di tepi jalan, tepat di bawah terik. Dua puluh menit berselang.
Sedang menunggu siapa, nduk?, tanya Pak becak.
Tidak siapa-siapa, Pak…
Berteduhlah kemari, di situ terlalu panas, nduk…
Terimakasih, Pak. Saya ingin di sini. Dan terik makin membakarnya. Lewat jam dua belas, ia mulai tampak menggerakkan kaki. Disekanya butiran besar air di wajah, dan Pak becak kembali menanyainya.
Pada setiap jalan, mungkin semua telah menganggap saya sebagai yang kalah, Pak. Seorang pecundang yang melindungi dirinya dari ketakmampuan. Dan karena itulah, siapa lagi yang akan meyakinkan diri saya, bahwa saya tak kalah, selain diri saya sendiri.
Kalau demikian, maka kau memang telah menang, nduk…
***
Dan pada setiap jalan, lahir kebimbangan, lahir keyakinan, dalam setiap pencarian. Makhluk-makhluk pencari pun berjumpa di setiap perempatan, setiap jalan. Dalam ketakteraturan. (***)


1 comment
Comments feed for this article
April 23, 2008 at 11:54 am
mila
mbak lilis ngawur!!
yang nggak teratur itu bukan mbak lilis !justru yang teratur itu mbak lilis. Mbak lilis ada di dalam “mangkok” ketakaturan. seumpama, kita ada disebuah desa yang seluruh penduduknya hobi boong atau dikondisikan untuk berbohong, trus mbak lilis nggak mau bohong, Mbak lilis yang bener kan?mbak lilis yang mencoba untuk teratur kan.
Ukuran, norma, nilai itu mutlak dari Yang Di Atas. Kalau kita coba menyesuaikannya dengan kondisi dan situasi yang ada, Ntar yang ada kesemerawutan. karena manusia punya nafsu dan keterbatasan(akal dan kuasa).
NB : Mila lagi marah…