Salam untukmu, Kartini…
Padamu insan yang menjadi inspirasi bagi perjuangan (yang tak sekedar oleh) kaum Hawa… Dan jika padamu tulisan ini kutujukan, bukanlah tanpa alasan. Atau setidaknya, aku ingin berbincang denganmu…
Kartini, tahukah jika sekarang bangsamu yang juga bangsaku ini ternyata tidak jauh berbeda dengan zaman ketika kau masih hidup. Masih terdapat penjajahan, justru lebih mengerikan karena dilakukan oleh pribumi sendiri, atau oleh mereka yang tak kasat. Seringkali bangsa ini menyerahkan diri dengan sadar pada imperialis itu, bahkan menyanjung-memuja mereka seolah segala-galanya lebih. Banyak yang membenarkan, mendukung, bahkan melindungi mereka yang menjajah saudaranya sendiri.
Privatisasi BUMN terus dilakukan, tanpa pembatasan apalagi larangan pemilikan saham oleh asing. Sementara Max Havelaar apa bisa ditemukan di zaman materialis seperti sekarang ini? aku pernah dengar, keterpurukan (ekonomi) bangsa ini adalah ‘dosa besar’ para ekonom bangsa kita sendiri yang tidak cukup mampu menganalisis dan menyumbangkan pemikirannya untuk perbaikan ekonomi bangsa—atau pun jika ada, mereka terlalu minor sehingga mudah dinafikan. Bukankah Mafia Berkeley masih juga bercokol hingga setelah tumbangnya Orde Baru? Bagaimana tidak demikian, jika ekonom kita bangga sekali berkuliah ke AS sana dan kemudian menerapkan begitu saja ilmu yang dicekokkan padanya. Meski kudengar kau dulu juga banyak mempelajari ilmu-ilmu dari Belanda sana dan kemudian sangat mengaguminya, kukira itu lebih karena keprihatinanmu pada pendidikan bangsa ini. Bukan untuk kembali mencekokkan pada bangsamu yang nyaris belum memiliki kesiapan. Lagipula, jika kau hidup di zaman sekarang, kukira realitas dan kehausanmu akan ilmu akan sangat menantangmu untuk mempelajari berbagai sistem perekonomian dan segala seluk-beluknya, agar kau bisa memahami dan menuliskan pemikiranmu kepada Estella, atau mungkin langsung kepada ekonom dan perangkat negara itu.
Terlepas dari permasalahan itu, kemarin kau merayakan hari lahirmu, hari yang kau syukuri dengan terus mempertajam kecerdasanmu. Dan itulah yang kau tawarkan sebagai bentuk emansipasimu? Kau yang di zamanmu, menjadi berbeda dengan selainnya, karena menikmati tulisan-tulisan yang bisa kau akses dari ayahandamu yang Bupati itu, sehingga menjadi lebih terbuka dan luas pengetahuanmu. Menjadi lebih cerdas dan mengerti. Bagaimanapun itu, perjuanganmu lebih diwarnai oleh kecerdasan, dan kemerdekaan.
Dan jika benar pemahamanku itu, maka lihatlah sekarang. Sebagian dari kaummu ini. Apakah kau akan memprotesnya, Kartini? Ada yang bilang kebebasan berekspresi, tetapi kemudian batasnya menjadi sedemikian tipis dengan eksploitasi diri. Atau begitulah seni, an sich, dengan sedikit lupa pada nilai-nilai yang seharusnya sangat bisa diusung. Atau begitulah tuntutan pekerjaan, ketika hukum pasar “lu minta—gue kasih” telah begitu dikumandangkan, sementara sisi edukasi—bahwa ‘pekerjaan’ mereka cukup efektif untuk memberikan pengajaran atau pendidikan bagi masyarakat—justru menjadi tak cukup strategis. Dan bahkan dengan dalih edukasi seks, entah apa yang dimaksud dengan edukasi itu sendiri, apakah dengan menyodorkan bonus kondom lengkap dengan cara pakainya dalam sebuah CD semacam “itu” yang bisa diakses oleh siapa saja, sementara edukasi seks dalam arti benar-benar sebuah pengetahuan masih terlalu minim… Entahlah Kartini, yang pro bisa bilang itu kebebasan, dan yang selain itu adalah pemasungan. Sedangkan yang kontra sebaliknya, “pembatasan” berdasar moral etika diperlukan. Kemudian, moral seolah dipisah secara dikotomis dengan hukum. Dan perbenturan menajam dalam penyusunan sebuah aturan yang memang dipertanyakan. Entah Kartini, yang jelas, banyak alasan yang bisa dijadikan sebagai pembenaran masing-masing pihak. Yang aku percaya, meskipun moral lebih bersifat pribadi, etika sebagai refleksi moralitas interpersonal adalah komulasi nilai-nilai prinsipiil yang bisa menjaga ‘kedaulatan kultur’ suatu masyarakat. Sehingga tak semestinya sebuah aturan justru mengeliminir adat dengan dalih bertentangan dengan etika yang ‘dipositifkan’ tersebut.
Dan Kartini, sedikit beralih dari semua itu, ada satu hal yang juga ingin kusampaikan. Berbeda dengan perempuan di masamu, parlemen kita sekarang telah memungkinkan keterwakilan perempuan sebagai calon anggota dewan minimal 30%. Itu dipercaya sebagai affirmative action.
Ya, ada baiknya tentu saja. Tetapi, ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan. Tentang kriteria calon itu sendiri, apakah telah memungkinkan dipenuhinya kuota tersebut. Sistem—atau secara struktural maupun kultural—selama ini, bukankah telah memposisikan sebagian (besar) perempuan menjadi cukup sulit untuk berkualitas optimal. Jadi, dari aspek ini, apakah kita cukup siap? Begitu juga tentang sistem pencalonan tersebut, apakah harus ditentukan bahwa urutannya harus begini—begitu, sehingga kita cukup siap untuk mengakomodir keterwakilan tersebut?
Hmm… setidaknya kita tidak ingin keterwakilan perempuan ini hanya untuk sekedar memenuhi kuota tersebut. Dia mampu, bukan hanya karena dia sebagai perempuan. Lihatlah ia karena ia memenuhi kriteria yang dibutuhkan, sebuah kualitas diri. Bukankah jika perempuan-perempuan ini banyak yang mampu menjadi anggota dewan, atau apa pun, dengan sendirinya mereka bisa lebih banyak melebihi kuota yang ditargetkan tersebut. Kelak, mereka akan menyuarakan aspirasi masyarakat umum, dengan kepekaan yang lebih. Dan tentu saja dengan rasionalitas yang tepat. Sehingga kemudian melahirkan kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat banyak. Dan juga kebijakan-kebijakan yang dibutuhkan kaum perempuan, dalam arti itu penting untuk perlindungan hukum bagi perempuan. Misalnya untuk TKW, PRT, pekerja perempuan, anak perempuan dan termasuk juga perempuan sebagai seorang istri dan ibu. Tentang kesehatan, pendidikan, dan hal-hal penting lainnya terutama bidang ekonomi. Perlindungan terhadap perekonomian—khususnya sektor primer—yang melibatkan lebih banyak perempuan seperti pabrik-pabrik, pertanian-perkebunan, pasar dan lainnya termasuk kebijakan yang terkait dengan harga produk-produk.
Ah, agaknya aku malah menuliskan hal lain, Kartini… Jadi, kembali saja pada alasanku yang sesungguhnya, menuliskan ini untukmu.
Aku hanya ingin tahu, bagaimana perspektifmu atas prosesku kemarin yang tanpa sebuah hasil.
Tapi ah, sudahlah, Kartini. Kukira tak perlu diperdebatkan kompromi dalam satu hal prinsipiil itu. Seorang yang nyata-nyata berdosa ingin meminta pembenaran, aku tidak akan mungkin sepaham. Jika pun aku berharap bisa melakukan sesuatu, itu tanpa membutakan diri dari kesalahannya. Kesalahan itu diakui dan diperbaiki, bukan mengingkarinya dengan pembenaran-pembenaran yang apologis. Itu adalah “ambang batas” yang harus dicamkan. Tak bisa lagi dikompromikan!
Karena itu, ada baiknya aku tak jadi bertanya, dan kau tak menjawab. Aku anggap kau lebih setuju dengan keyakinanku. Dan jangan anggap aku melakukan sebuah pembelaan diri, sebuah pembenaran jika aku bilang bahwa aku bersyukur tak terjerumus dalam kubangan itu. Temanku pernah bilang, jika aku masuk dalam kubangan lumpur, maka aku harus rajin membersihkan diri. Itu jelas sulit, sangat riskan dengan keterjerumusan yang lebih dalam. Kau tahu kan, terperosok di situ tidak memungkinkan kita berontak. Semakin kita berontak, semakin kubangan itu menenggelamkan kita. Ya, anggaplah begitu. Dan tidakkah bagi sebagian orang kau dianggap telah “kalah” oleh sistem yang kau lawan sendiri (maaf Kartini…). Karena akhirnya kau menjadi istri dari seorang yang cukup segalanya dan… telah beristri. Mungkin seperti bibir Mona Lisa yang tersenyum, tapi tidak demikian dengan pancaran matanya. Kau mungkin sekali tak bahagia, tapi kau (harus) menghembuskan nafasmu di sana. Dan ah, aku tak mau begitu, Kartini…
Ya, sedikit hal tentang lukisan agung da Vinci dalam film apik “Mona Lisa Smile,” menginspirasi seorang Miss. Watson dan anak didiknya untuk lebih ‘hidup.’ Meskipun akhirnya, Miss. Watson memutuskan untuk pergi dari kampus yang terlalu enggan untuk mengubah kekonservatifannya, menuju negeri lain yang diharapkan bersedia menerima ide-idenya akan perubahan. Begitulah, Kartini… Bagi sebagian orang, ia dianggap telah kalah. Tapi demikianlah sebuah pencarian. Bahwa tujuannya hanyalah mencari, untuk menemukan apa yang dicarinya. Sebuah kebenaran yang diyakininya. Hmm, analogi itu berlebihan memang. Tapi tidakkah itu bisa menginspirasikanku, kau, dan kita?
Jadi, dukunglah aku, agar aku dapat melakukan yang terbaik. Bukan untukku saja. Dan tanpa mengabaikan keyakinan yang prinsipiil itu. Kita tak sedang tawar-menawar, Kartini… Begitu bukan?
Ah, tak terasa banyak yang telah kutulis. Kucukupkan dulu, dan terimakasih kau mau mendengarku. Oya, satu hal meski tak penting, “Selamat ulang tahun, Kartini…” (***)
22 April ’08…


No comments yet
Comments feed for this article