Manusia menjadi unik, karena ia mempunyai keterbatasan. Tak ada yang sempurna, meski hanya sebatas kesempurnaan yang ia bayangkan sendiri. Dan mimpi sajalah, jika seorang mengharap bisa sempurna, tentang dirinya sendiri, atau pun tentang penerimaannya atas yang lain. Berharap seorang yang tanpa cela, dan terus, tak ada kemungkinan suatu saat akan salah. Atau berharap seorang akan terus bisa tenang, meski menghadapi gemuruh kehidupan yang tak bisa disangkanya. Karena jika demikian, bersiaplah untuk kecewa.
Meski demikian, tentu ketidaksempurnaan bukan dalih untuk selalu membenarkan ketidakmampuan kita. Begitu juga dengan rasa muak yang ditanyakan seorang tadi. Mengapa merasa muak?
Muak. Suatu perasaan yang tidak mengenakkan, sedikit sarkas memang. Bagi subjek yang merasa muak, maupun objek yang dimuaki. Bukankah kita tidak nyaman ketika merasa muak, atau menjadikan yang lain muak? Tapi terkadang kita tak begitu mudah untuk tidak muak. Mungkin pada janji-janji, yang melulu sebagai pemanis bibir. Mungkin pada sifat seorang yang tak kunjung berubah, sementara menjanjikan diri berubah. Atau bisa jadi sekedar pada sesuatu yang—kadang tidak dapat diketahui jelas sebabnya—menjadikan kita begitu sebal. Toh, adakalanya tidak setiap hal dari diri kita dapat kita kontrol sepenuhnya. Atau tidak kita inginkan secara sadar. Bukankah, seringkali kita telah sedemikian keras mengontrol apa-apa yang kita rasa dan pikirkan. Tentang diri kita, dan di luar kita. Namun, kadang ”sesuatu yang tak diundang” bisa juga hadir menembus batas-batas yang telah kita pahatkan baik-baik.
Dan apakah yang demikian menjadi salah? Bisa jadi ya, jika kita berharap kesempurnaan. Tapi kita paham, manusiawi jika seorang merasa muak suatu kali. Sepersekian detik dalam hidupnya. Dengan begitu, mungkin, kita menjadi lebih mengenal diri sendiri, lebih detail.
Demikian halnya, tidak mengenakkan juga bagi sesuatu—atau seorang, atau bahkan kita sendiri—yang terhadap ia kita muak. Bayangkan, jika seorang bilang: ”Aku muak terhadapmu!” Mungkin kita menjadi marah, atau sekedar sedih. Tapi akan lebih baik jika kita kemudian menekur diri. Merenungkan.
Tapi baiknya kita lebih paham, bahwa muak itu tidak sedemikian penting. Lebih pada apa yang harus dilakukan ke depan, supaya muak itu berkurang, dan jika bisa hilang. Entah pada cara kita mengubah persepsi kita sendiri, atau atas sesuatu—seorang yang terhadapnya kita muak. Tentu harus dipahami juga bahwa akan memerlukan upaya yang lebih besar jika kita mencoba cara yang kedua. Dan lebih bijak menggunakan cara pertama, karena yang kedua bisa seolah memvonis sesuatu—seorang itu salah.
Mungkin jika antara pribadi-pribadi, demikian. Lantas, bagaimana dengan kemuakan atas sesuatu yang lebih besar kepentingannya? Mungkin ketika mendengar statemen, dari seorang penguasa. Yang melulu arogan, melulu apologis, atau melulu ’manis’. Mungkin terhadap janji-janji, yang terus saja menjadi janji, tanpa realisasi. Banyak contoh yang demikian. Atau atas fakta-fakta, bahwa terlalu banyak yang terlibat dalam kebusukan. Hingga akhirnya, kita pun muak. Padanya, dan pada diri sendiri.
Tapi agaknya, muak yang demikian kadang menjadi perlu. Setidaknya agar kita tidak terlalu masabodoh. Setidaknya, mungkin, kita masih punya sensitivitas, kepedulian terhadap segala sesuatu itu. Dengan setidaknya sebuah catatan, bahwa muak itu tidak seharusnya membuat kita sekedar berpaling, tanpa berikhtiar sesuatu pun.***

No comments yet
Comments feed for this article