“Anji**!” kau mengumpat. Tak cukup kepalan tangan yang biasa kau hantamkan pada dinding dan udara yang membisu. Tak cukup teriakan “HAHH!!!” untuk meluapkan kemuakan pikiranmu. Kau menyumpah. Dan tak biasanya begitu.
Lantas, wajahmu membatu. Tapi tak cukup melukiskan jiwamu yang meradang, yang jauh lebih menggemuruh. Sakit kian menyempurna. Tak bisa dirasa lagi.
Dan kau seperti tak menghiraukan ketika aku mendekat. Yang dengan sedikit ragu menenangkanmu. Tapi kau, seperti kau pada biasa-biasanya padaku, lekas melunak. Kau biarkan aku menarik tanganmu, membawamu pergi dari kebisingan itu.
Dzuhur saat itu. Dan siang begitu terik. Kau diam. Sekitarmu diam. Dan manusia sekeliling tak banyak yang bergeming.
Biar sayang, sejenaklah kita tak pedulikan riuh di luar sana…
Kali ini, padaku, kau tersenyum. Dan kau menggeleng. (***)

No comments yet
Comments feed for this article