Saudara harus membayar semua ini …!” IA mendengar suara itu seperti sebuah rengekan. Di otaknya menghitung angka-angka sekian digit ditambah sekian digit, yang semuanya diperkirakan menjadi lebih dari sepuluh digit. Tapi IA diam.

 

Adalah IA, dua tahun lalu telah didiagnosis menderita penyakit paru-paru. Bukan IA perokok, karena dalam keluarganya tak cukup uang untuk sekedar dibakar. IA hanyalah berkebiasaan tidur terlalu larut, terlalu banyak menghirup udara malam. Pekerjaan mengkondisikannya untuk terbiasa demikian, tak membiarkan tubuhnya sedikit lebih tenang melakukan detoksifikasi alamiah di tengah malam hingga jam tiga dini hari. Justru saat-saat itu IA lebih khusyuk bekerja, dengan keheninganlah IA lebih memusatkan diri pada kerja dan pikirannya.

 

Dokter yang memeriksanya saat itu menjelaskan dengan bahasa yang terlalu ilmiah—dan IA tak cukup paham istilah-istilah medis. Yang IA tahu hanyalah bahwa beberapa tahapan pengobatan berbiaya mahal harus dijalani.

 

Itulah yang menyedihkannya. Menjadi orang tak berkelebihan sepertinya, tak memungkinkan untuk dengan mudah menanggung biaya pengobatan yang sekian puluh juta itu. Sejumlah bantuan pernah dijanjikan Pemerintah melalui program Askeskin, tetapi ia tak cukup miskin untuk mendapatkannya—setidaknya ia tak pernah berpikir miskin secara ekonomi. Kemiskinannya adalah kemiskinan struktural, dan ia terlalu kecil untuk bisa menyuarakannya. Lagipula Askeskin itu juga bermasalah, entah ’dimutasi’ entah bahkan dihapuskan kelak.

 

Menjadi rakyat di negeri ini harus membiasakan diri untuk tidak bergantung pada bantuan pemerintah. ”Mereka” sudah terlalu sibuk, menyibukkan diri. Dengan jualan permata misalnya. Sedangkan anggaran sudah terlalu mépét, subsidi BBM harus dipangkas (alasannya adalah harga minyak mentah dunia melonjak—paradoks dengan bahwa seharusnya sebagai ladang minyak maka jumlah devisa yang didapat juga naik), anggaran pendidikan disusut karena masuknya gaji pendidik dalam 20% itu, dan terbaru adalah dana JPS dikuras 15% untuk bayar korban Lapindo, sehingga kemudian tak cukup dana untuk—bahkan—para anak gizi buruk. Itu juga masih kurang, pemangkasan harus lebih sering dilakukan, di lebih banyak sektor, karena APBN harus membiayai BLBI yang triliunan itu hingga sebuah-atau bahkan beberapa generasi baru lahir kelak, juga intensif dan penyesuaian kebutuhan (gaya) hidup para wakil rakyat, termasuk kebutuhan untuk studi banding ke luar negeri supaya bisa belajar di sana—karena belajar di daerah sendiri itu tak cukup (ah, waktu sebulan mana cukup, itu hanya pantas untuk sebuah tour-tanpa studi). Ah, pusing IA.

 

Tapi bagaimanapun, IA berobat juga. Dengan jadwal yang telah ditentukan sang dokter yang sangat sibuk itu. Dengan kondisi yang terkadang lebih parah atau pun lebih menyakitkan. Dan menjadi bergantung pada resep obat dan nasihat dokter, hingga bulan kesembilan—melebihi terapi TBC.

 

Dan kemudian perlahan, IA mengurangi jadwal berobat itu, dan tak menukarkan resep yang diberikan sang dokter. Tentu saja tanpa pengetahuan sang ahli tersebut. Bahkan pada pergantian tahun kedua, IA memutuskan untuk ke rumah sakit sesukanya saja. Klimaksnya adalah ketika waktu ke sana menjadi sangat mengganggu waktu kerjanya. Padahal jelas, kerja itu satu-satunya penghidupan baginya, tak ada yang lain. Kerja itu satu-satunya hal yang bisa melarutkan dirinya dalam kehidupan dan kemanusiaannya. Dan pilihan sudah jelas.

 

Bulan keenam pada tahun kedua, IA telah memutuskan sendiri, untuk tak ke dokter. Dan benarlah, paru-parunya justru mengadaptasikan diri dengan jadwal baru yang lebih padat. Kerja makin banyak, bukan karena oplah meningkat atau pun permintaan akan jasanya semakin bertambah, tetapi hidup makin sulit dan dipersulit.

 

Pada akhir-akhir tahun, harga kedelai meningkat hampir dua kali lipat. Otomatis harga tempe-tahu juga menjadi mahal. Ia lebih sebal lagi karena perdebatan kedelai impor itu. Ia merasa sial, kedelai impor itu adalah hasil transgenik yang konon memang dihindari di negara maju. Anehnya, negaranya Indonesia ini mengimpornya, dan beberapa pengrajin tempe-tahu juga lebih menyukainya karena lebih murah, lebih bagus bentuknya, lebih bersih dan… Tak tahulah IA, bagaimana nanti kalau potensi berbahaya dari kedelai transgenik itu memang mengendap dalam tubuhnya dan sebagian besar saudara sebangsanya yang sesama konsumen tempe. Dan ternyata IA dibikin lebih sebal lagi. Bea masuk untuk impor kedelai dihapuskan pemerintah. Katanya, untuk mengurangi biaya, biar harganya bisa ditekan. Alamak! Hatinya menjerit. Langkah yang sedemikian parsial dan insidental! IA mulai berpikir iseng. Tentang kedelai lokal yang makin terdesak, tentang petani kedelai,….

 

Pernah didengarnya tentang fluktuasi harga kedelai yang menjadikan petani tak berminat menanam kedelai, harga pupuk yang tak hanya mahal tapi juga langka, infrastruktur yang tak memadai, tengkulak, bahkan konon ketidakberpihakan musim. Huf, menjadi pusing IA. Nafasnya lebih sesak lagi.

 

Belum beres, eh, harga minyak mentah dunia melonjak. Negaranya pontang-panting menekan harga dengan alternatif-alternatif aneh. Smart card, katanya, akan dipakai di SPBU yang ditunjuk untuk membatasi pemakaian premium bersubsidi.

Hanya, sadar tak sadar, nafasnya yang terlalu sering sesak saat memikirkan himpitan hidup itu—seiring semakin banyak dan kerasnya hantaman gelombang dalam kehidupannya—paru-parunya juga sepertinya makin tangguh. Dan demikianlah IA, tak pernah mengeluhkan lagi paru-parunya yang ’meradang.’

 

Suatu waktu, sang dokter menanyakan kondisinya. Dengan riang, IA katakan telah sembuh. Komentar sang dokter adalah bentuk ketidakpercayaan medis pada penyembuhan ’alamiah’ seperti itu. Dokter itu yakin bahwa tetaplah obat yang diberikannya yang telah menyembuhkan si pasien itu.

 

Huh, muak IA pada celoteh demikian, merasa ”lebih”.

 

”Kalau saya mau, dokter justru yang saya tuntut untuk membayar semua ini!” teriaknya, tapi dalam hati. IA hanya berlalu, meninggalkan sang dokter yang memang tak menyembuhkannya. (***)

 

March 13, 2008