[JAKARTA] Tingginya anggaran negara pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nega- ra (RAPBN) 2009, yakni Rp 1.022,6 triliun, dinilai kontradiktif menyusul pernyataan pemerintah belakangan ini yang menyebut perekonomian Tanah Air tengah tertekan.

“Pemerintah mengatakan, ekonomi Indonesia saat ini tertekan dengan gejolak perekonomian global. Berarti, seharusnya dengan tekanan itu, anggaran tidak boleh naik dong,” ujar pengamat ekonomi, yang juga mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Rizal Ramli kepada SP, Jumat (15/8) pagi.

Sebab, dengan kondisi perekonomian saat ini, dia lanjutkan, seharusnya pemerintah justru menggenjot pasar ekspor nasional, serta menggerakkan investasi di dalam negeri. “Biasanya, kalau ada tekanan apapun, yang dilakukan pemerintah itu adalah menggenjot ekspor dan investasinya, bukan malah menaikkan anggaran,” kata Rizal.

Selain itu, target pencapaian pertumbuhan ekonomi dalam RPBN 2009 sebesar 6,2 persen, dia nilai, tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya, untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain di Asia, Indonesia memerlukan pertumbuhan di atas dua digit, 10 persen misalnya. “Kalau cuma 5-6 persen, itu sih biasa-biasa saja. Persoalan kita, kita harus tumbuh di atas itu,” tutur dia.

Hal berbeda diungkapkan Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Ikhsan Modjo. Dia mengatakan, besaran RAPBN 2009 yang mencapai Rp 1.022,6 triliun meningkat Rp 127,6 triliun atau 14,3 persen dibanding tahun sebelumnya masih realistis, mengingat peningkatannya dari tahun ke tahun yang berkisar Rp 100 triliun-150 triliun.

“Peningkatan ini wajar, dari tahun ke tahun memang akan selalu naik angkanya. Persoalannya, kalau jumlahnya sudah lebih dari Rp 1.000 triliun, berarti akan didominasi oleh pemerintah, karena porsinya sebesar 30 persen. Sisi baiknya, perekonomian kita jadi tidak terpengaruh dengan fluktuasi ekonomi global, tapi di lain sisi, kalau anggarannya lemah, perekonomian kita akan stuck (macet),” ujar Ikhsan.

Sementara itu, menanggapi soal pencapaian target pertumbuhan ekonomi 6,2 persen dalam R-APBN 2009, dia anggap hal itu pun masih realistis. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi menjadi realistis dengan catatan tren perekonomian di Tanah Air tidak lebih buruk dari kondisi tahun sebelumnya.

“Sebenarnya ada satu rebounding dalam perekonomian Indonesia, dan selama tren perekonomiannya terus terjaga. Dalam arti, tidak ada suatu kejadian yang lebih buruk dari kondisi 2008, angka pertumbuhan 6,2 persen menjadi realistis,” tegas Ikhsan.

Terlalu Optimistis

Pengamat ekonomi dari LPEM UI, Nina Sapti mengatakan, asumsi harga minyak sebesar US$ 100 per barel dalam RAPBN 2009 dinilai terlalu optimis. Ia menyarankan, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak RAPBN 2009 sebelumnya, yakni US$ 130 per barel.

“Asumsi harga minyak dalam RAPBN 2009 terlalu rendah, karena diprediksi harga minyak dunia akan naik lagi. Diperkirakan, harga minyak akan berada di kisaran US$ 150 per barel. Berarti yang cukup reasonable asumsinya dalam RAPBN 2009 sekitar US$ 130 per barel,” tuturnya kepada SP, Jumat (15/8) pagi.

Dengan asumsi minyak yang dinilai terlalu rendah, Nina memprediksi, proses revisi berkali-kali yang dilakukan pemerintah pada APBN 2008 akan kembali terjadi pada RAPBN 2009 mendatang. [CNV/D-10]

 dikutip dari: 

 http://www.suarapembaruan.com/News/2008/08/15/Ekonomi/eko01.htm