Sebuah pameran seni rupa baru saja kunikmati, di hari pertama Ramadhan. Temanya menarik, “Kéré Munggah Balé,” semacam orang miskin yang tiba-tiba ‘naik pangkat.’ Tiap orang yang lupa diri ketika ia memegang jabatan, kekayaan, hal-hal yang dianggap “lebih.”

 

Saat aku datang, sepi memang, tapi toh jadi sedikit lebih kondusif untuk menikmati detail lukisan itu, patung itu. Meski tak terlalu paham. Sehingga butuh Katalog, dan bertanya “Mengapa ada ikan di sana?”

 

Dari pintu masuk, sebuah lukisan segera kunikmati. Seorang lelaki berjas duduk di sofa empuk, menyanding perempuan telanjang. Di bawah kaki si bos, seekor anjing piaraan dan sekian puluh miniatur manusia, seperti mainan. Ada tulisan “human=animal.”

 

Dengan “pesan” yang tidak jauh berbeda, “si bos” duduk sebuah singgasana berkelimpahan harta tapi mengangkangi penderitaan rakyat jelata yang justru menjadi penyangga singgasana, tetap dengan memangku seorang perempuan telanjang. Demikian juga sebuah agenda “si bos” yang main golf, menyuap aparat, melancong ke luar negeri, asyik dengan perempuan, tidur di sidang wakil rakyat. Di lukisan “Pasar Bebas Perspektif Indonesia,” agenda “si bos” adalah menjual negerinya, pada asing. Tak hanya kekayaan alam, banjir lumpur dan bencana alam pun jadilah komoditas. Kapitalisme, apa pun jadi komoditas.

 

Korupsi digambarkan oleh lukisan “Makin Hari Makin Berat.” Sebuah jas mewah yang dibungkus plastik, terlihat transparan, banyak tikusnya. Dan gantungan pun makin melorot keberatan.

 

Sebuah lukisan menarik, “Missing Link.” Proses evolusi yang harus tahap demi tahap dipotong sedemikian rupa. Dan hasilnya, homo sapiens itu hanyalah berubah penampilannya saja. Ia berjas, berdasi dan bersepatu. Sesuai tema “Kéré Munggah Balé,” manusia sekarang menyukai perubahan yang mendadak dan instan. Dan perubahan yang drastis begitu bisa mengakibatkan dirinya kehilangan jati diri.

 

The Mad(ness) of the Year” menggambarkan politikus yang aji mumpung. Pengadu jago berjas-dasi sebagai petualang nasib, berlidah menjulur panjang, pembual. Tragisnya, mental “Kéré Munggah Balé” yang sekedar idiom tentang orang miskin yang tiba-tiba bertahta dan kaya, sekaligus idiom orang-orang yang hidup dari nafsunya tersebut, tidak hanya menjangkiti orang semacam “si bos,” tapi juga pendeta, rohaniawan dan ulama. Patung pendeta yang sedang memangku simbol keduniawian mengibaratkan doa yang berpamrih.

 

Lucu juga seorang lelaki dengan wajah kampungan yang hanya memakai celana kolor pendek sedang tertawa dan memainkan dasinya. Narsis. Dasi sebagai simbol status sosial selalu digunakan, atau setidaknya diimajinasikan sebagai impian selalu dikagumi. Dan bukankah ia juga lupa tempat dan waktu.

 

Selain naluri binatang yang dianggap merepresentasikan mental “Kéré Munggah Balé,” orang-orang macam ini juga diwarnai sifat balas dendam. Ia akan mengambil kompensasi atas ketakpunyaan yang meliputi hidupnya saat miskin. Sehingga ketika berkuasa dan kaya, ia bukannya menjadi dermawan, tapi lebih tamak, kejam dan korup.

 

***

 

Wah, agaknya aku bukanlah penikmat lukisan yang baik dan cerdas menangkap nilai yang terkandung. Tapi satu hal, Kéré Munggah Balé bisa merefleksikan inkonsistensi, cara berpikir, dan bersikap. Prinsip-prinsip yang diidealkan saat seorang tak berpunya, bisa bergeser-berubah-diabaikan, saat ia mempunyai segalanya. Ia bisa lupa. Tak sekedar lupa, tapi bisa “gila.” Na’udzubillah… (***)