Suatu waktu (dua hari lalu) kau bilang, tak usahlah menengok ke belakang lagi….

***

Hari ini, semoga tulisan ini bisa sedikit berguna untukmu.

Kenapa saat sudah terengah-engah menempuh jarak yang sekian jauh, terkadang kita masih saja menengok pada persimpangan-persimpangan yang telah dilewati? Hmmm, mungkin karena kita tak pernah menganggap persimpangan itu adalah sisi gelap yang haruis dihapuskan. Mungkin karena kita selalu yakin bisa tersenyum pada semuanya, kemarin, kini dan esok. Dan mungkin karena kita yakin mampu memisahkan mana yang relevan, dan mana yang remeh temeh, untuk tujuan yang jauh lebih baik, jauh lebih penting, yang harusnya bisa kita capai tanpa harus memulai perjalanan dari nol lagi. Tanpa harus menghancurkan perjalanan yang sudah sejauh itu.

Tapi sekarang dan esok, memang baiknya kita konsentrasi, menekuni mimpi yang menunggu untuk segera diraih. Selama langkah kita baik, tak melukai hak orang lain, ada baiknya tak pedulikan bisik-bisik, lemparan batu, dan pandangan mata yang beberapa kali tak percaya itu. Kita tak perlu terlalu memusingkan itu semua.

Memang, terkadang itu menjadi sulit. Mungkin ketika kau sudah sangat jengah. Mungkin ketika kau sedang menurutkan hatimu saja yang mereaksi. Atau mungkin kau terlalu terkejut akan deru yang tiba-tiba mengguncang ketenangan yang kau bangun. Atau kau sedang bertanya, berlogika, apakah kesiapan langkahmu sekarang harus kau lanjutkan sendiri? Tapi percayalah, kau hanya butuh waktu untuk sejenak berhenti. Untuk mempercepat langkahmu kemudian. Teruslah berjalan…

***

Esok, akan kutuliskan “Arti Sebuah Kerja” yang kau tanyakan kemarin.

(16 Jan ‘09)