“… kau …, yang … “

begitu sebuah lagu sang maestro yang kau senandungkan kemarin. dan kemarinnya lagi. tiap kau menyapaku. dengan sedikit gubahan, karena kata kerjanya memang tak pernah kau lakukan. dan tentu saja karena aku bukanlah lawanmu.

selanjutnya, kau telah keliru dalam senandungmu itu. satu hal, dua kata yang kau nyanyikan tidaklah begitu kusuka. dan tentu karena kau saja yang tak cukup tahu tentangku. bayangkan, kau hanya mengenalku saat matahari terlihat oleh mata kita. jam enam pagi saat aku keluar dari pintu rumah, jam tujuh lima belas menit saat mengantri presensi dengan jariku yang seringkali rewel itu. menyibukkan diri dengan pekerjaan yang harus segera diselesaikan. dan tengah hari sejam mengasokan diri untuk kemudian melanjutkan target yang belum tercapai hingga jam lima, saatnya kembali mengantri presensi. lantas, kau melihatku sedikit ngebut di jalanan yang dua puluh kilometer itu. begitu saja.

padahal, mana kau tahu, apa kerjaku itu hanya untuk ‘nilai’ yang ingin ku peroleh, atau mungkin ambisi lainnya. kau kan mana tahu, seorang teman menyapaku pagi-pagi, “bawa bekal makan siang ya, biar tak istirahat kelamaan karena diajak makan bareng dengan rekan di tempat yang jauh…” yah, mana kau tahu, jika aku korupsi waktu. bisa saja toh. kerja sepertiku memungkinkan untuk itu. tapi kau kan harusnya sudah tahu, kerjaku diintai cukup banyak orang karena masih disangsikan transparansi dan akuntabilitasnya. toh perombakan sistem dan paradigma beserta sdm itu masih harus terus diperbaiki. memang harus demikian to..

dan… bukankah kau tak pernah melihatku setelah matahari senja benar-benar menyembunyikan dirinya. aku membuka pintu, sejenak berbincang dengan kekasihku, untuk kemudian bercengkrama dengan jiwaku saja. dalam tidurku. ya. jika aku lelah, maka aku melelapkan diri saja dengan tak peduli pada perut yang merengek minta diisi. karena aku berharap akan kenyang dalam tidur, dan kadang bermimpi telah menyelesaikan tugas-tugas dengan baik sekali. dan kemudian ketika alarm hp antikku melengking jam dua tiga puluh menit, aku membuka mata. mungkin. berbincang dengan diri, dengan keyboard, dengan kertas, dengan tugas, dengan …. hingga adzan subuh memanggil, dan itu artinya kembali menyiapkan diri untuk rutinitas per lima hari.

tak ada yang khusus. sabtu dan minggu juga biasa saja. kerja bakti sedikit merapikan kamar, mencuci segunung pakaian, mungkin jalan-jalan pagi ke sepanjang ‘sunmor,’ dan ke swalayan untuk beli keperluan seminggu ke depan, atau ke pasar tradisional sekedar kangen hiruk-pikuk yang berbaur kesahajaan, atau malah di rumah saja membaca-baca buku yang harusnya sudah lama dirampungkan, lantas mengetuk-ngetuk keyboard, atau apesnya malah menyelesaikan tugas yang harus segera dikumpulkan. demikian saja.

karena itu, aku jengah dengan nyanyianmu itu. berpalinglah, teriakkan lagumu itu ke arah sana. atau ke sana. karena aku mulai bosan. maaf.(***)