Seorang pernah bercerita, tentang seorang tua dengan kedua kakinya yang tak cukup sempurna menyusuri trotoar jalan raya. Di suatu petang saat adzan Maghrib sesaat lagi akan dikumandangkan. Ia berjalan agak terpincang-pincang. Tanpa alas kaki. Pada jalanan padat oleh kendaraan. Pada jalanan yang digenangi air hujan yang turun sangat deras sore itu. Orang-orang seperti tak peduli lagi pada sekeliling. Berebut ingin secepatnya mencapai rumah. Yang hangat, dan tidak basah.
Lelaki tua itu berjalan terus menembus hujan yang agaknya tengah memberi kesempatan manusia-manusia ini untuk segera pulang, gerimis sesaat. Ia tak hanya pincang oleh kakinya yang tak cukup sempurna, tapi juga oleh barang dagangan yang diusungnya di atas pundak. Tumpukan sandal bakiak dipikulnya. Ya, ia membuat dan menjual sandal, tapi ia sendiri tak memakainya.
Sandal-sandal itu tak seberapa bagus sebenarnya. Potongan yang kasar jelas sebuah karya ‘manual.’ Mungkin ia sendiri yang mulai dengan menebang pohonnnya, memotong-motong, dan merautnya. Tak usah membayangkan ada mesin pemotong, pencetak ukuran, penghalus, dan lainnya. Kemudian, potongan ban bekas dikaitkan dengan paku di kedua sisinya.
Memang, pikulan itu agaknya tak seberapa berat karena kayu-kayu sandal itu sangatlah ringan. Tapi penopang tubuh yang sedikit tidak berimbang pastilah mempengaruhi. Bisa dibayangkan: hujan deras, petang, kerentaan, kaki yang tak cukup sempurna, pikulan, mungkin lapar yang sangat, kontras dengan bisingnya sekeliling.
Ia akan pulang ke rumahnya di kampung, jika barang dagangannya itu telah habis terjual. Harganya tak seberapa. Itu sudah jelas.
Lantas, ada apa dengan cerita itu? Cerita itu sungguh tidak dengan tujuan khusus yang wah. Itu hanyalah secuil dari sekian banyak realitas yang ada. Seperti uleg-cobek-batu yang dipikul lelaki dari atas pegunungan, dijajakan ke rumah-rumah. Padahal ulek-cobek-batu telah dicetak, banyak sekali dijual yang demikian, dan harganya lebih murah. Demikianlah, setetes kehidupan penghuni bumi ini. Yang muram, dan yang sesungguhnya dekat sekali dengan kita. Jika kita mau sedikit menoleh. Melihat ke bawah, ke sisi-sisi yang agaknya terkadang seperti tak kasat. Dibalut dengan hiruk pikuk, tapi sesungguhnya ia justru hidup di dalamnya.
Lantas? Pertanyaan yang wajar diajukan pada orang-orang yang merasa bahwa hidupnya ‘dibiayai’ oleh orang lain, yang makan-minumnya tak bebas dari kucuran keringat dan bahkan air mata manusia lainnya: seberapa layak kerjaku dihargai dengan ini semua??? (***)
* Jogja, menjelang larut.

No comments yet
Comments feed for this article