“Heiii…handphone-mu masih yang itu-itu juga??” Angga menyambutku sore itu. Lengkap dengan sambutnya yang lain. Pertama tentu saja: “Kau tambah item aja…”. Itu persis ketika ia melihatku membuka helm dan slayer. Kemudian, seperti biasanya, pundakku diraihnya. Masih kayak dulu, katanya. Atas semuanya, aku hanya tersenyum, dengan jemari yang memutar kunci pintu kamar. Uff… sedikit bau pengap tercium juga olehku. Tirai jendela segera kubuka, pintu dan jendela juga kubiarkan memasukkan udara sebanyak-banyaknya. Aiih…debu di kaca jendelaku bisa untuk ditulisi!
Kemudian, handphone-ku segera ditimang-timangnya. Kukira setelah penelitian ini, kau sudah akan pakai handphone baru, setidaknya yang lebih layak lah…, katanya seperti menggerutu. Kata “layak” ditekannya sedemikian rupa. Huh!
Kedua tas kutaruh di dekat pintu, aku langsung duduk, menyelonjorkan kaki. Ayo, gimana kerjamu di sana, Angga masih juga menungguiku. Tangannya membuka-buka tas, berharap akan oleh-oleh dari kota genangan yang kukunjungi kemarin.
***
Tak banyak yang bisa kuceritakan. Hanyalah tentang akses pendidikan yang sempat membuatku heran. Betapa tidak, jika “Laskar Pelangi” yang lebih tangguh ternyata ada pula di sini, di bumi Jawa! Dari segi gedung sekolahnya memang tidaklah menyatu dengan ‘kandang kambing,’ tapi perjuangan untuk menikmati sekolah itu yang harus dengan berjalan kaki sekian jauhnya karena ketiadaan alat transportasi membuatku berdecak. Anak anak sekolah dasar dari perbukitan sebelah sana, harus turun bukit, menyeberangi sungai dan hutan pinus, untuk bersekolah pagi di sini. Muridnya tak ada sepuluh anak sekelas. Dan karena hanya ada tiga ruang kelas, mereka bergantian. Pulangnya, anak kelas satu, dua dan tiga tak langsung ke rumah. Mereka akan bermain, berlarian, menunggu kakak kelas sekaligus teman-teman pulangnya itu untuk—terutama—menyeberangi sungai bersama.
Sebuah pendidikan ‘sederhana,’ yang agaknya kontras dengan sebuah kampus megah di tepi kota ini. Kampus yang melahirkan para birokrat pemerintahan, yang beberapa kali disorot media malah karena telah diwarnai dengan kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban meninggal dunia (seperti bunyi pasal KUHP saja). Bukan lebih karena teladan atau prestasi para calon ‘pamong negara’ atau ‘pengajar’nya di sana.
Hmm, dan kabut menghiasi perbukitan yang kukunjungi itu, bahkan tak jarang di siang hari. Seperti saat aku datang ke sana. Hawa dingin menyergap rongga-rongga tubuh, dan mulut akan mengeluarkan ‘asap’ tipis. Fiiuuu…aku bermain-main dengan asap tipis yang bisa kusemburkan dari mulutku.
Satu hal, hampir tak ada angkutan umum di sana. Dan itu berarti juga pelayanan kesehatan yang tak mudah mereka nikmati. Posyandu dan Polindes menjadi andalan, itupun tak berbeda dengan fasilitas pendidikan tadi. Beberapa warga yang jaraknya terpisah itu harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan sulit. Tenaga medis yang ada hanyalah seorang bidan, dan mungkin bidan lain yang sedang berkunjung ke Polindes. Dan mereka benar-benar ‘membuka’ pintu rumah mereka dua puluh empat jam!
Alat transportasi yang ada adalah ojek sepeda motor. Di kecamatan lain di kota genangan ini, ojek tersebut adalah satu-satunya alat yang bisa digunakan. Kami juga tak diperbolehkan naik motor sendiri untuk mencapai desa yang dituju, karena satu-satunya jalan adalah jalan sempit berbatu yang menanjak terjal, licin, sekaligus di pinggir jurang!
Ckckck…, bidan-bidan itu, guru-guru itu, anak-anak sekolah itu, semua warga itu…ah, buatku mereka luar biasa. Keramahan dan antusiasme mereka tiap bertemu dengan ‘orang baru’ seperti aku dan kawan-kawan dengan mudah akan membuat kita merasa lebih nyaman di ‘rumah orang’ itu.
Tapi yang mengherankan, di sebagian besar kota genangan yang sempat kukunjungi itu, rumah-rumah warga di sekitar jalan utama sepanjang kota itu terbilang sangatlah bagus. Bahkan, di pelosok desa pun, banyak perumahan yang membuatku berkomentar: “Tidak seperti di desaku….” Lebih mengherankan lagi, hingga di pelosok pun, spanduk-spanduk besar bendera parpol dan gambar-gambar calon ‘wakil rakyat’ itu menghuni pinggiran jalanan, dan bahkan pepohonan. Bau kampanye pilkada begitu jelas. Kedua hal itu selalu mengambil perhatian dan kukomentari tiap kali perpindahan basecamp.
***
Simpang Siur “Genangan” Itu
Yup, Kota Genangan. Ini kusebut, awalnya karena warga—setelah setidaknya dua puluh kilometer jauhnya dari pusat kota—bercerita. Bahwa desa yang ditinggalinya sekarang ini adalah daerah genangan. Suatu waktu, berjuta-juta kubik air akan menenggelamkannya, dan karena itulah mereka harus pindah. Nantinya, tinggal sebuah sejarah bahwa kota kecil ini pernah dihuni oleh sejumlah ratusan ribu manusia. Mungkin, sesekali mereka akan berkunjung, karena banyak di antara mereka yang hanya pindah ke kota-kota sebelah. Di sana banyak daerah translok (transmigrasi lokal) yang sudah disiapkan.
Ada yang bercerita, rencana pembuatan waduk itu sudah lama sekali, sebelum pembuatan Waduk Kedung Ombo yang kontroversial itu. Waduk yang sekarang telah dalam proses ini kelak akan menjadi waduk terbesar di Asia Tenggara. Konon, mengapa hingga sekarang masih dalam tahap permulaan—tidak jauh beda dengan kasus lainnya—adalah karena pengambilalihan tanahnya yang bermasalah. Ada suara, bahwa dulu sekali, pemerintah telah memberikan ganti rugi kepada sejumlah warga, dan mereka telah transmigrasi ke luar pulau. Tapi kemudian kembali dan membangun rumah lagi di sini. Ada pula cerita, bahwa orang-orang pendatang (yang ternyata memanglah kaum investor) banyak yang membeli lahan dengan harga yang murah kepada warga, kemudian membangun berbagai gedung mewah, dalam rangka melambungkan harga tanah yang nantinya harus dibayarkan pada mereka. Spekulan tanah dan para pemilik modal merajalela. Begitulah cerita. Toh, bendungan tetap dibangun. Menyatukan beberapa perbukitan ini dalam satu ‘bak raksasa’ bernama Waduk Jatigede.
Anehnya, sebuah daerah translok nyata-nyata nyaris terisolir dari peradaban! Dari jauh, terlihat perumahan semi permanen berbentuk panggung yang mengumpul di beberapa titik. Tentu saja, yang kulihat itu terletak di ketinggian sekitar sembilan ratus meter di atas permukaan laut. Daerah translok itu seperti titik-titik putih di antara warna hijau perbukitan pinus yang seringkali menjadi kelabu berkabut. Kenapa terisolir? Karena satu-satunya penghubung adalah sebuah jalan beraspal kasar dengan beberapa lubang menghiasi, yang terjal dan sangat rawan longsor di musim penghujan. Sementara alat transportasi umum tidaklah ada. Itulah daerah yang kukunjungi setelah beberapa lama menakjubi sengkedan hijau yang indah dan pinus-pinus yang menjulang tinggi. Dan itu tak seberapa jauh (tak ada seratus kilometer) dari sebuah kota besar. Bandung, si Kota Kembang.
***
“…dan seorang pengunjung Kota Genangan itu sepulang dari sana terlihat jauh lebih tenang…,” komentar Angga. “…meskipun sedikit lebih item dan tipis…haha!” sambungnya cukup tak sopan. (***)
*Jogja, dan hujan deras yang turun menjelang Subuh, padahal harus segera beranjak…


No comments yet
Comments feed for this article