Benarkah apa yang kau inginkan adalah benar-benar karena butuh?
Sabtu. Seperti beberapa Sabtu sebelumnya, kau dan aku ke tepian pantai selatan Pulau Jawa. Kali ini, berangkat sesaat setelah Shubuh membangunkan matahari untuk mulai menghangatkan bumi. Saat sebagian insan masih berselimut. Tapi sekaligus saat sebagian lain insan mulai mengayuh penghidupannya. Seperti manusia-manusia dari daerah selatan, ke utara—sebagian ke selatan, tempatnya bekerja. Dan dingin masih sedikit mengenggankan kita berlomba dengan ufuk timur yang akan segera menguning.
Tapi kau dan aku mengembangkan senyum, saat mengalahkan sang fajar untuk lebih dulu menyapa deburan air yang menggunung, merendamkan kaki di tepi laut itu. Hamparan pasir ini masih cukup sepi, belum berpenghuni. Beberapa waktu kita benar-benar menikmati semua itu. Bukan karena sangat menyukainya, lebih karena ketenangan dan kesadaran bahwa indera kita hanya dapat menikmati tak melampaui titik-titik air laut yang di jauh sana. Lebih karena di sini, deru ombak itu akan meredam suara kita hingga seperti bisik-bisik yang hanya kita saja yang dengar. Lebih karena pengunjung lain pun—nanti, sibuk menikmati keindahan, bagi mereka masing-masing. Lebih karena, sesekali, kau dan aku bisa menantang ombak itu, dengan suara kita yang segera saja dapat dirangkumnya, dan dirahasiakannya. Itu agaknya percuma, tapi kau dan aku mempercayakannya. Ah, ada-ada saja…
Tapi menurutku, jika kau akhir-akhir ini lebih sering mengajakku ke sini, adalah karena kau akan lebih leluasa menyudutkanku. Semacam mengevaluasiku. Ya, akhir-akhir ini aku merasa kau lebih banyak memperbincangkanku. Apa yang kau tuju dari perdebatan-perdebatan itu jika bukan untuk mengevaluasi. Padahal aku sudah bilang, aku bosan bicara. Aku bosan saat kau mengharapkan jawabanku, apalagi yang bernada penjelasan. Mungkin karena terkadang aku sendiri ragu akan jawabanku, atau mungkin karena aku ragu kau akan bisa mengerti. Karena sadarkah, kau menjadi sangat sering bertanya.
***
Mungkin sama sekali tidaklah bisa disebut butuh. Seperti saat kau menginginkan sepotong-beberapa potong baju yang ‘up to date’ karena tak ingin dibilang kuno, atau karena ingin seperti lainnya. Sementara tumpukan baju di lemari tak bisa dibilang sedikit. Lebih dari cukup untuk membungkus sebuah tubuh yang harus beraktivitas, dari pagi hingga pagi berikutnya. Dari Senin ke Senin berikutnya lagi. Kenapa kadang masih berpikir, apakah ini masih ‘layak’ untuk dikenakan ke kantor, ke keramaian? Apakah mungkin karena kau-aku membandingkannya ke ‘atas’?
Seperti saat kau ingin makan sesuatu yang belum pernah kau makan. Mungkin hanya ingin coba-coba, supaya tak terlalu memalukan jika teman yang lain bertanya. Tak mengapa, jika itu tak menjadi kebiasaan. Tapi akan jadi lucu, kalau karena alasan itu, kau menelan makanan yang sama sekali tak kau suka, atau yang kau berpantang atasnya karena alasan bahkan prinsip tertentu. (Padahal, kadang kita tak terlalu pintar menolak bujukan untuk berada di suatu tempat yang dihindari selama ini).
Atau seperti saat menginginkan benda-benda yang kau tak tahu pasti manfaatnya. Mungkin saat membelinya kau hanya terbujuk rayuan-rayuan itu, atau kau latah saja seperti teman-temanmu, atau kau memang melihatnya begitu manis dan terlalu sayang jika ia hanya menjadi tontonan. Apa saja lah…
Mungkin karena iseng saja. Yup, adakalanya kau-aku iseng saja mengajukan yang diinginkan. Waktu kemarin dan kini, keinginanmu bisa menjadi jauh berbeda. Dan itu bisa terjadi karena apa saja. Mungkin karena konteksnya sudah berbeda. Mungkin karena pemahaman berbeda yang kau lakukan. Mungkin karena prioritas yang berbeda.
Tapi bisakah kau-aku membedakan dalam keinginan terkadang yang ada hanyalah ‘obsesi’? Saat kau menempati ranking pertama di kelasmu, atau saat kau menjadi yang terbaik. Kau ingin selalu melakukan yang demikian. Untukmu saja. Tapi sekedar demikian? Jika kau buka telingamu, dan kau tersenyum mendengar sanjungan itu, maka cobalah kau bertanya apa yang terjadi padamu. Sungguhkah makna prestasi itu yang kau inginkan, atau yang lainnya, yang tak cukup penting itu?
Dan bisakah kau menyadari bahwa ternyata apa yang diingini itu tak lebih dari rasa ‘tertantang’ untuk mendapatkan sesuatu itu? Seperti saat kau—dengan kesombonganmu—menaklukkannya, puncak Mahameru itu? Mahameru yang dielukan orang, dikagumi, dan kau jadi penasaran, tertantang untuk menaklukkannya. Ingatkah, senyummu yang berbeda saat di puncak sana?
… Saat ini kau tidak tahu naluri apa yang akan menggerakkanmu besok, kau yang telah belajar dengan baik tentang semua yang harus kau pelajari, apa yang masih akan kau cari? Mencapai usia matang, tidak seharusnyakah kau hidup dengan tenang, menunaikan kewajibanmu tanpa menekan dirimu dengan tugas pada sebuah kedudukan yang tidak terlalu rendah dan juga tidak terlalu tinggi… (Kau bahkan menukil karya besar, sebuah novel peraih Nobel Sastra yang kemarin kau pinjamkan, Gunung Jiwa, oleh Gao Xingjian).
***
Kau menguliahiku pagi-pagi sekali. Dalam gumamanmu yang sesekali ku jawab, juga dengan gumaman, yang kadang menaik intonasinya karena kau terus keukeuh dengan pendapatmu.
Satu hal, mustahil untuk membuat semua-muanya selaras. Saat kita telah ada di persimpangan jalan, kita tak bisa terus meragu di titik itu. Kita harus memilih. Dan satu hal penting, masing-masing kita punya alasan yang harus jauh lebih diprioritaskan. Kau paham tentang itu.
Dan kau juga paham, apa yang menurut kita penting, kadang tak demikian menurut orang lain. Sialnya, jika kita berharap telah sepaham bahwa itu penting, tapi kita sadar di akhirnya bahwa kita sama sekali tak sepaham. (***)

No comments yet
Comments feed for this article