Sabtu kali ini harusnya aku belajar, mempersiapkan diri untuk ke Temanggung selama seminggu esok. Minimal belajar sekian modul itu agar penyusunan tugas esok lebih efisien. Lebih baik lagi jika belajar sekian banyak hal untuk menambal ketidaktahuanku selama mengikuti kuliah seharian penuh ini. Menulis lagi remeh temeh, atau bahkan beberapa hal yang cukup perlu untuk ku tulis, sebagai pengingat untukku sendiri.
Tapi tetaplah banyak godaan, salah satunya film. Ups, bukan karena aku maniak film. Kadang, mataku terlalu lelah untuk bisa bertahan memelototi layar datar itu lebih dari dua jam. Kebetulan tidak. Meski “21” itu juga telah dibangun di gedung bioskop lama yang terbakar itu, aku tak juga tertarik berebut kegelapan di salah satu ruangnya. Huf, bagaimana pun, bioskop itu telah semakin mempermacetkan jalan satu jalur ke arah RS. Bethesda ini.
Tapi, sekali lagi, aku suka film-film kolosal. Film dengan nuansa warna coklat, dengan kesan jadulnya. Bukan karena heroisme dalam film kolosal yang menarikku, karena aku tak cukup suka hero-hero yang modern-futuristik itu. Film-film yang humanistik juga sangat ku suka. Begitu juga, film yang membuat kening berkerut karena tak sekedar bernuansa entertain, juga ku sukai. Ya, ku kira, nilai-nilai moral baiknya terkandung dalam sebuah skenario. Tak perlu jauh-jauh dari realitas yang ada, baik itu tentang masa lampau, bahkan esok.
Kali ini, sebuah judul film menggodaku untuk mengabaikan lembar-lembar modul itu, lebih dari dua jam. Hanya di depan televisi. Padahal, sebenarnya tak banyak yang menyukai jenis film ini. Mungkin karena kadang, memang sangat menjemukan menunggu usainya. Tapi film ini sudah pernah ku tonton. Di situlah menariknya. Film ini tetap menggodaku, meski pun aku telah pernah menikmatinya sendiri, dengan khusyuk. Aneh!
Apakah karena film ini sedemikian bagus? Atau aktor-aktrisnya sedemikian menarik? Hmm, mungkin keduanya. Tapi banyak hal menarik yang memang masih bisa kunikmati sepanjang alurnya. Bahasa tubuh dari pemainnya, kata-katanya yang penuh makna dan tersusun indah, dan ide pokok tentang perjuangan antara kepentingan pribadi (cinta dll.nya) dan cinta tanah air. Dan di pihak lain adalah kecintaan terhadap negara yang cukup fanatik. Meski kemudian ia menyadari kekeliruannya. Hhm, tapi memang tak akan ku tulis lebih jauh, karena ketika teman-temanku tahu aku menontonnya lagi, itu tidak menjadi hal yang cukup baik, hehe…
Oya, satu hal lagi. Aku menontonnya untuk yang kedua kali karena film itu berakhir dengan sedih sekali dari segi pribadinya sebagai makhluk biasa. Meski pun cukup baik, dan tetap ada kedamaian beserta ketenangan pada diri tokoh perempuannya. Ya, pengorbanan yang amat besar dilakukan demi pengabdian kepada bangsanya. Begitu juga harusnya kita. Dengan caranya sendiri, meski terkesan sepele pun. Terhadap apapun, tak hanya negeri tercinta. Meski kadang, pengorbanan itu sempat menjadikan kita ragu akan hal mana yang harus jauh lebih diprioritaskan, dan hal mana yang bisa sementara waktu ditunda.
Ya, film ini cukup berbeda dari keumuman film-film jenisnya yang banyaknya begitu-begitu melulu. Dan itu jelas layak diapresiasi, untuk tidak begitu saja digeneralisir sebagaimana film-film dari daerah seberang itu. (***)

No comments yet
Comments feed for this article