Tulisan ini karena aku, hingga pagi menjelang pencontrengan-pencoblosan-penitikan-pengomaan-dsb, belum juga bertetap hati. Memutuskan untuk memilih. Tulisan ini karena aku, hingga Kamis pagi tanggal 9 April 2009, belum juga mengenali calon-calon wakil rakyat yang akan duduk di parlemen. Kalau dibilang, kenalilah visi-misi mereka, maka aku bilang, aku hanya mengetahuinya lewat iklan-iklan mereka di televisi. Itu pun tak banyak yang dikatakan mereka. Tak jarang malah terkesan muluk, misalnya, harga sembako murah. Tapi toh, mereka tak menjelaskan bagaimana caranya membuat harga sembako itu tak mencekik rakyat banyak. Mereka lebih sering nampang, unjuk muka di baliho-baliho, menghuni pepohonan sepanjang jalan, rumah-rumah.
Memang, aku tak cukup besar ingin tahu, tentang segala macam janji-janji itu. Partai-partai besar di antara 38 parpol itu saja tak cukup ku tahu. Apalagi sekian ribu calon-calon legislatif yang mereka usung. Aku lebih sering menghitung tanpa menjumlah, gambar-gambar mereka di jalanan yang ku lalui. Seberapa besar ukuran gambar itu, dan seberapa banyak. Itu bisa untuk memperkirakan berapa duit yang mereka gelontorkan. Atau siapa yang ada di baliknya. Kadang, aku mencari-cari keunikan yang lebih tepat sebagai aneh, dari gambar-gambar itu. Dan visi-misi? Mereka tak pernah ada di sana. Hanya ada nomor, foto, dan …sesumbar?
Bagaimana pun, hari ini, pesta demokrasi itu akan dilaksanakan. Siap atau tidak. Banyak masalah pun. Dan apakah rakyat banyak masih akan dapat berharap? Berharap akan penghidupan yang lebih baik? Akses pendidikan yang berkualitas, tapi tanpa melambungkan biayanya. Kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bisa dinikmati tiap warga, terutama peningkatan kesehatan anak dan ibu. Pemenuhan akan kebutuhan sehari-hari yang layak dan manusiawi. Ah, itu baru kebutuhan dasar. Bagaimana dengan kemerdekaan untuk berpendapat, berkeyakinan, berorganisasi…? Dan kedaulatan bangsa atas penjajahan ekonomi, politik, budaya… ? Ah!
Apakah menyerahkan kepercayaan kepada orang-orang baik, yang aku tak jelas tahu agendanya? Atau pada agenda yang masih juga dipertanyakan, baik itu karena ‘absurditas’nya untuk bisa diwujudkan di negeri penuh anomali ini, ataupun karena track-record punggawanya yang buram-hitam?
Tulisan ini aku upload di sini. Karena aku tak bisa menjawab semua itu. Kita haus akan perbaikan. Bukan sekedar perubahan yang digadang-gadangkan?? Buktikan… Buktikan… !!!(***)
—————————————————————————————–
Surat dari Imam Ali Untuk Para Penguasa
Jadikanlah kekuasaanmu yang sangat pada segala sesuatu yang paling dekat dengan kebenaran, paling luas dalam keadilan, dan paling meliputi kepuasan rakyat banyak.
Sebab, kemarahan rakyat-banyak mampu mengalahkan kepuasan kaum elit. Adapun kemarahan kaum elit dapat dibaikan dengan adanya kepuasan rakyat banyak.
Sesungguhnya rakyat yang berasal dari kaum elit ini adalah yang paling berat membebani wali negeri dalam masa kemakmuran: paling sedikit bantuannya di masa kesulitan di masa kesulitan; paling membenci keadilan; paling banyak tuntutannya, namun paling sedikit rasa terimakasihnya bila diberi; paling lambat menerima alasan bila ditolak; dan paling sedikit kesabaranya bila berhadapan dengan berbagai bencana.
Seburuk-buruk menterimu adalah mereka yang tadinya juga menjadi menteri orang-orang jahat yang telah berkuasa sebelummu, yang bersekutu dengan mereka dalam dosa dan pelanggaran. Maka jangan kaujadikan mereka sebagai kelompok pendampingmu, sebab mereka adalah pembantu-pembantu kaum durhaka, dan saudara-saudara kaum yang aniaya.
Kemudian pilihlah untuk jabatan sebagai hakim orang-orang yang paling utama diantara rakyatmu, yang luas pengetahuannya dan tidak mudah dibangkitkan emosinya oleh lawannya. Tidak berkeras kepala dalam kekeliruan dan tidak segan kembali kepada kebenaran bila telah mengetahuinya. Tidak tergiur hatinya oleh ketamakan. Tidak merasa cukup dengan pemahaman yang hanya di permukaan saja, tetapi ia berusaha memahami sesuatu sedalam-dalamnya.
Mereka yang paling segera berhenti, karena berhati-hati, bila berhadapan dengan keraguan. Yang paling bersedia menerima argumen-argumen yang benar dan yang paling sedikit rasa kesalnya bila didebat oleh lawan. Yang paling sabar menyelidiki semua urusan dan yang paling tegas beroleh kejelasan tentang penyelesainya.
Untuk kaum fakir miskin dan Kaum Lemah jangan kau lalaikan mereka. Jangan sekali-kali kau disibukkan oleh kemewahan. Dan jangan beranggapan bahwa kau tidak akan dituntut apabila melalaikan yang remeh semata-mata disebabkan kau telah menyempurnakan berbagai urusan yang besar lagi penting. Curahkanlah perhatianmu pada mereka dan jangan sekali-kali kau palingkan wajahmu dari mereka.
Telitilah juga hal ihwal orang-orang yang tidak dapat mencapaimu disebabkan kehinaan mereka di mata orang banyak. Tugaskanlah beberapa orang kepercayaanmu-yang bersahaja dan tawadhu-untuk meneliti keadaan orang-orang itu. Kemudian penuhilah kewajibanmu terhadap mereka sehingga kaudapat mempertanggung-jawabkan kelak, pada saat perjumpaanmu dengan Allah SWT. Ingatlah apa yang dinyatakan oleh Rasulullah saw: Tidak akan tersucikan suatu ummat selama si lemah tidak dapat menuntut dan memperoleh kembali haknya dari si kuat tanpa rasa takut dan cemas.
(Sumber: Muhammad al Baqir, Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan 1999)

No comments yet
Comments feed for this article