Hari itu, akhirnya, aku tetap memilihmu. Di antara sekian banyak yang ada. Dan aku tahu, apa artinya.
Aku dan kau berbeda pendapat dalam beberapa hal penting. Jalan yang kita lalui tak sepenuhnya sama, meski tujuan tidaklah berbeda. Toh memang, perbedaan itu tidaklah boleh membuatku menafikkan persamaan yang telah kita bangun. Kesependapatan yang telah sering kita perdebatkan, hingga kita menuju satu titik. Semoga saja itu tidak berubah.
Di antara sekian yang lain, ku ketahui kaulah yang masih konsisten. Setidaknya kau masih menyuarakan kejujuran. Meski kini kau pun tak bebas dari sangkaan. Dan meski kini, pada satu titik, kau tak cukup tegas memutuskan pilihan. Mau bilang apa, itulah kau yang ku kenal. Setidaknya, pertimbanganku cukup logis ketika ku nilai kau masih yang terbaik di antara yang lain. Saat aku menaruh kepercayaan dan harapan pada niat baik yang kau punya. Meski sekali lagi ku tekankan, aku berbeda pendapat denganmu dalam beberapa hal penting. Dan baiknya, kau lebih camkan yang terakhir ini, karena itu bisa mengingatkanmu akan suatu hal yang berbeda. Yang bisa kau jadikan pembanding untukmu.
Dan ingatlah, surat kemarin. Maka buktikanlah bahwa aku benar memilihmu.

1 comment
Comments feed for this article
May 20, 2009 at 12:39 pm
mizar
tentang kerisauan hati saudara kah?
———————
yup. itu adalah sdkit kerisauan saat pil-leg kemarin…
aku–mungkin kita hanya mjd bagian yg kmd terabaikan…