Senja. 30 April, jam 5 sore. Aku membuka tirai pada jendela di samping ku duduk. Masih di tempat kerja. Warna langit di barat sana tetaplah warna yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Rona yang acap ku takjubi, dan kini masih tetap saja ku pandangi. Meski sungguh, beberapa waktu ini ia juga menggundahkanku.
Aku tak begitu paham persisnya kenapa. Mungkin karena jingga itu menjadi pertanda akan hadirnya malam. Malam yang kini begitu banyak arti jika diuraikan satu per satu. Tapi sepertinya hanyalah menjadi lebih sedikit arti karena ternyata sebagiannya terangkum menjadi satu saja. Atau mungkin karena aku kuatir tak lagi menjadi entitas yang berarti pada malam. Yang sekarang hadir sebagai kemestian perputaran waktu saja. Atau mungkin karena sapaan-sapaan yang hadir kadang menyentil kekinianku. Atau apa saja lah. Aku tak harus memahami benar mengapa.
Siang tadi, ada yang mempertanyakan prosedur yang berlaku di tempat kerjaku. Ku jawab ia berdasar pengetahuanku. Dan memang demikianlah adanya, sekian hari aku di sini, pada seksi yang hendak dialihkan ini, memanglah banyak hal yang mengesankan tidak efektif efisiennya sistem yang berlaku. Adanya beberapa pihak yang terkait langsung justru menyebabkan pertanggungjawaban pun seharusnya merupakan hasil kinerja semua pihak terkait itu. Tapi siapa peduli dengan pembagian tersebut? “Konsumen” wajarlah tidak peduli, baik karena ketidaktahuannya atau pun malah jika sebenarnya ia telah tahu. Mereka adalah salah satu pengontrol kinerja kami. Meskipun bagi aku sendiri, rasanya ingin membela diri. Beberapa catatan ini suatu kali haruslah diperbaiki.
Ya, haruslah demikian. Suatu hal dilaksanakan sebaik mungkin, kemudian dievaluasi untuk menilai seberapa efisien efektifnya proses, seberapa optimal proses itu membuahkan hasil, dsb. Setidaknya malam harinya aku mendengar kabar baik bahwa akhirnya, setelah sekian lama menanti, aku pun dapat menikmati sebagian hakku sebagai pekerja. Untuk pertama kalinya semenjak aku di sini. Alhamdulillah…meskipun satu deret panjang daftar tanggungan hutang telah menunggu untuk segera dipenuhi. Dan artinya, kemungkinan lebih banyak yang kualokasikan untuk melunasi semua itu. Haha… (***)

No comments yet
Comments feed for this article