You are currently browsing the category archive for the 'sketsametamorfosa' category.

aku sudah sangat rindu menulis.

 

dan aku pasti akan menulis.

 

lagi.

saat menginjakkan kaki di sini, ada yang spontan menyeruak. sebuah nama mengukir diri dengan indahnya. ingatan begitu cepat menghadirkan berbagai kenangan di masa lalu.

ada rindu yang sangat, dan keikhlasan hati untuk melepas kepergiannya sajalah yang menenangkan. selalu saja begitu.

tangan jatuh pada gundukan tipis tanah yang sedikit dihiasi rerumputan liar. keheningan segera tercipta. “semoga kau bahagia…”

adakalanya sesak menghampiri. teringat sudahkah kebahagiaan dirasakannya dulu. karenaku. bersamaku. aku tak sempat menanyakannya.

tapi kau tahu, aku sangat mencintaimu…

* kebumen, di atas pusara-nya…

Senja. 30 April, jam 5 sore. Aku membuka tirai pada jendela di samping ku duduk. Masih di tempat kerja. Warna langit di barat sana tetaplah warna yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Rona yang acap ku takjubi, dan kini masih tetap saja ku pandangi. Meski sungguh, beberapa waktu ini ia juga menggundahkanku.

 

Aku tak begitu paham persisnya kenapa. Mungkin karena jingga itu menjadi pertanda akan hadirnya malam. Malam yang kini begitu banyak arti jika diuraikan satu per satu. Tapi sepertinya hanyalah menjadi lebih sedikit arti karena ternyata sebagiannya terangkum menjadi satu saja. Atau mungkin karena aku kuatir tak lagi menjadi entitas yang berarti pada malam. Yang sekarang hadir sebagai kemestian perputaran waktu saja. Atau mungkin karena sapaan-sapaan yang hadir kadang menyentil kekinianku. Atau apa saja lah. Aku tak harus memahami benar mengapa.

 

Siang tadi, ada yang mempertanyakan prosedur yang berlaku di tempat kerjaku. Ku jawab ia berdasar pengetahuanku. Dan memang demikianlah adanya, sekian hari aku di sini, pada seksi yang hendak dialihkan ini, memanglah banyak hal yang mengesankan tidak efektif efisiennya sistem yang berlaku. Adanya beberapa pihak yang terkait langsung justru menyebabkan pertanggungjawaban pun seharusnya merupakan hasil kinerja semua pihak terkait itu. Tapi siapa peduli dengan pembagian tersebut? “Konsumen” wajarlah tidak peduli, baik karena ketidaktahuannya atau pun malah jika sebenarnya ia telah tahu. Mereka adalah salah satu pengontrol kinerja kami. Meskipun bagi aku sendiri, rasanya ingin membela diri. Beberapa catatan ini suatu kali haruslah diperbaiki.

 

Ya, haruslah demikian. Suatu hal dilaksanakan sebaik mungkin, kemudian dievaluasi untuk menilai seberapa efisien efektifnya proses, seberapa optimal proses itu membuahkan hasil, dsb. Setidaknya malam harinya aku mendengar kabar baik bahwa akhirnya, setelah sekian lama menanti, aku pun dapat menikmati sebagian hakku sebagai pekerja. Untuk pertama kalinya semenjak aku di sini. Alhamdulillah…meskipun satu deret panjang daftar tanggungan hutang telah menunggu untuk segera dipenuhi. Dan artinya, kemungkinan lebih banyak yang kualokasikan untuk melunasi semua itu. Haha… (***)

tenggelamkan! 

Heiii…handphone-mu masih yang itu-itu juga??” Angga menyambutku sore itu. Lengkap dengan sambutnya yang lain. Pertama tentu saja: “Kau tambah item aja…”. Itu persis ketika ia melihatku membuka helm dan slayer. Kemudian, seperti biasanya, pundakku diraihnya. Masih kayak dulu, katanya. Atas semuanya, aku hanya tersenyum, dengan jemari yang memutar kunci pintu kamar. Uff… sedikit bau pengap tercium juga olehku. Tirai jendela segera kubuka, pintu dan jendela juga kubiarkan memasukkan udara sebanyak-banyaknya. Aiih…debu di kaca jendelaku bisa untuk ditulisi!

 

Kemudian, handphone-ku segera ditimang-timangnya. Kukira setelah penelitian ini, kau sudah akan pakai handphone baru, setidaknya yang lebih layak lah…, katanya seperti menggerutu. Kata “layak” ditekannya sedemikian rupa. Huh!

 

Kedua tas kutaruh di dekat pintu, aku langsung duduk, menyelonjorkan kaki. Ayo, gimana kerjamu di sana, Angga masih juga menungguiku. Tangannya membuka-buka tas, berharap akan oleh-oleh dari kota genangan yang kukunjungi kemarin.

 

***

 

Tak banyak yang bisa kuceritakan. Hanyalah tentang akses pendidikan yang sempat membuatku heran. Betapa tidak, jika “Laskar Pelangi” yang lebih tangguh ternyata ada pula di sini, di bumi Jawa! Dari segi gedung sekolahnya memang tidaklah menyatu dengan ‘kandang kambing,’ tapi perjuangan untuk menikmati sekolah itu yang harus dengan berjalan kaki sekian jauhnya karena ketiadaan alat transportasi membuatku berdecak. Anak anak sekolah dasar dari perbukitan sebelah sana, harus turun bukit, menyeberangi sungai dan hutan pinus, untuk bersekolah pagi di sini. Muridnya tak ada sepuluh anak sekelas. Dan karena hanya ada tiga ruang kelas, mereka bergantian. Pulangnya, anak kelas satu, dua dan tiga tak langsung ke rumah. Mereka akan bermain, berlarian, menunggu kakak kelas sekaligus teman-teman pulangnya itu untuk—terutama—menyeberangi sungai bersama.

 

Sebuah pendidikan ‘sederhana,’ yang agaknya kontras dengan sebuah kampus megah di tepi kota ini. Kampus yang melahirkan para birokrat pemerintahan, yang beberapa kali disorot media malah karena telah diwarnai dengan kekerasan yang mengakibatkan jatuhnya korban meninggal dunia (seperti bunyi pasal KUHP saja). Bukan lebih karena teladan atau prestasi para calon ‘pamong negara’ atau ‘pengajar’nya di sana.

 

Hmm, dan kabut menghiasi perbukitan yang kukunjungi itu, bahkan tak jarang di siang hari. Seperti saat aku datang ke sana. Hawa dingin menyergap rongga-rongga tubuh, dan mulut akan mengeluarkan ‘asap’ tipis. Fiiuuu…aku bermain-main dengan asap tipis yang bisa kusemburkan dari mulutku.

 

Satu hal, hampir tak ada angkutan umum di sana. Dan itu berarti juga pelayanan kesehatan yang tak mudah mereka nikmati. Posyandu dan Polindes menjadi andalan, itupun tak berbeda dengan fasilitas pendidikan tadi. Beberapa warga yang jaraknya terpisah itu harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan sulit. Tenaga medis yang ada hanyalah seorang bidan, dan mungkin bidan lain yang sedang berkunjung ke Polindes. Dan mereka benar-benar ‘membuka’ pintu rumah mereka dua puluh empat jam!

 

Alat transportasi yang ada adalah ojek sepeda motor. Di kecamatan lain di kota genangan ini, ojek tersebut adalah satu-satunya alat yang bisa digunakan. Kami juga tak diperbolehkan naik motor sendiri untuk mencapai desa yang dituju, karena satu-satunya jalan adalah jalan sempit berbatu yang menanjak terjal, licin, sekaligus di pinggir jurang!

 

Ckckck…, bidan-bidan itu, guru-guru itu, anak-anak sekolah itu, semua warga itu…ah, buatku mereka luar biasa. Keramahan dan antusiasme mereka tiap bertemu dengan ‘orang baru’ seperti aku dan kawan-kawan dengan mudah akan membuat kita merasa lebih nyaman di ‘rumah orang’ itu.

 

Tapi yang mengherankan, di sebagian besar kota genangan yang sempat kukunjungi itu, rumah-rumah warga di sekitar jalan utama sepanjang kota itu terbilang sangatlah bagus. Bahkan, di pelosok desa pun, banyak perumahan yang membuatku berkomentar: “Tidak seperti di desaku….” Lebih mengherankan lagi, hingga di pelosok pun, spanduk-spanduk besar bendera parpol dan gambar-gambar calon ‘wakil rakyat’ itu menghuni pinggiran jalanan, dan bahkan pepohonan. Bau kampanye pilkada begitu jelas. Kedua hal itu selalu mengambil perhatian dan kukomentari tiap kali perpindahan basecamp.

 

***

 

 

Simpang Siur “Genangan” Itu

Yup, Kota Genangan. Ini kusebut, awalnya karena warga—setelah setidaknya dua puluh kilometer jauhnya dari pusat kota—bercerita. Bahwa desa yang ditinggalinya sekarang ini adalah daerah genangan. Suatu waktu, berjuta-juta kubik air akan menenggelamkannya, dan karena itulah mereka harus pindah. Nantinya, tinggal sebuah sejarah bahwa kota kecil ini pernah dihuni oleh sejumlah ratusan ribu manusia. Mungkin, sesekali mereka akan berkunjung, karena banyak di antara mereka yang hanya pindah ke kota-kota sebelah. Di sana banyak daerah translok (transmigrasi lokal) yang sudah disiapkan.

 

Ada yang bercerita, rencana pembuatan waduk itu sudah lama sekali, sebelum pembuatan Waduk Kedung Ombo yang kontroversial itu. Waduk yang sekarang telah dalam proses ini kelak akan menjadi waduk terbesar di Asia Tenggara. Konon, mengapa hingga sekarang masih dalam tahap permulaan—tidak jauh beda dengan kasus lainnya—adalah karena pengambilalihan tanahnya yang bermasalah. Ada suara, bahwa dulu sekali, pemerintah telah memberikan ganti rugi kepada sejumlah warga, dan mereka telah transmigrasi ke luar pulau. Tapi kemudian kembali dan membangun rumah lagi di sini. Ada pula cerita, bahwa orang-orang pendatang (yang ternyata memanglah kaum investor) banyak yang membeli lahan dengan harga yang murah kepada warga, kemudian membangun berbagai gedung mewah, dalam rangka melambungkan harga tanah yang nantinya harus dibayarkan pada mereka. Spekulan tanah dan para pemilik modal merajalela. Begitulah cerita. Toh, bendungan tetap dibangun. Menyatukan beberapa perbukitan ini dalam satu ‘bak raksasa’ bernama Waduk Jatigede.

 

Anehnya, sebuah daerah translok nyata-nyata nyaris terisolir dari peradaban! Dari jauh, terlihat perumahan semi permanen berbentuk panggung yang mengumpul di beberapa titik. Tentu saja, yang kulihat itu terletak di ketinggian sekitar sembilan ratus meter di atas permukaan laut. Daerah translok itu seperti titik-titik putih di antara warna hijau perbukitan pinus yang seringkali menjadi kelabu berkabut. Kenapa terisolir? Karena satu-satunya penghubung adalah sebuah jalan beraspal kasar dengan beberapa lubang menghiasi, yang terjal dan sangat rawan longsor di musim penghujan. Sementara alat transportasi umum tidaklah ada. Itulah daerah yang kukunjungi setelah beberapa lama menakjubi sengkedan hijau yang indah dan pinus-pinus yang menjulang tinggi. Dan itu tak seberapa jauh (tak ada seratus kilometer) dari sebuah kota besar. Bandung, si Kota Kembang.

 

***

 

…dan seorang pengunjung Kota Genangan itu sepulang dari sana terlihat jauh lebih tenang…,” komentar Angga. “…meskipun sedikit lebih item dan tipis…haha!” sambungnya cukup tak sopan. (***)

 

 

*Jogja, dan hujan deras yang turun menjelang Subuh, padahal harus segera beranjak…

 

Suatu waktu (dua hari lalu) kau bilang, tak usahlah menengok ke belakang lagi….

***

Hari ini, semoga tulisan ini bisa sedikit berguna untukmu.

Kenapa saat sudah terengah-engah menempuh jarak yang sekian jauh, terkadang kita masih saja menengok pada persimpangan-persimpangan yang telah dilewati? Hmmm, mungkin karena kita tak pernah menganggap persimpangan itu adalah sisi gelap yang haruis dihapuskan. Mungkin karena kita selalu yakin bisa tersenyum pada semuanya, kemarin, kini dan esok. Dan mungkin karena kita yakin mampu memisahkan mana yang relevan, dan mana yang remeh temeh, untuk tujuan yang jauh lebih baik, jauh lebih penting, yang harusnya bisa kita capai tanpa harus memulai perjalanan dari nol lagi. Tanpa harus menghancurkan perjalanan yang sudah sejauh itu.

Tapi sekarang dan esok, memang baiknya kita konsentrasi, menekuni mimpi yang menunggu untuk segera diraih. Selama langkah kita baik, tak melukai hak orang lain, ada baiknya tak pedulikan bisik-bisik, lemparan batu, dan pandangan mata yang beberapa kali tak percaya itu. Kita tak perlu terlalu memusingkan itu semua.

Memang, terkadang itu menjadi sulit. Mungkin ketika kau sudah sangat jengah. Mungkin ketika kau sedang menurutkan hatimu saja yang mereaksi. Atau mungkin kau terlalu terkejut akan deru yang tiba-tiba mengguncang ketenangan yang kau bangun. Atau kau sedang bertanya, berlogika, apakah kesiapan langkahmu sekarang harus kau lanjutkan sendiri? Tapi percayalah, kau hanya butuh waktu untuk sejenak berhenti. Untuk mempercepat langkahmu kemudian. Teruslah berjalan…

***

Esok, akan kutuliskan “Arti Sebuah Kerja” yang kau tanyakan kemarin.

(16 Jan ‘09)

untuk BISU…

 

tapi toh, “ia” membuatmu belajar…

tentang mereka yang tinggal menunggu saatnya digenangkan air berjuta-juta kubik…?

tentang daerah genangan itu yang menunggu saatnya untuk meninggalkan sejarah, bahwa ia pernah dihuni sekian ratus ribu manusia yang kemudian dieksekusi demi…

tentang adil dan tak adil, menurut siapa…???

tentang pendidikan yang mencengangkan

tentang akses informasi, bahkan harian nasional itu tak pernah bisa kau dapatkan, jika tanpa pergi ke kota yang 30 KM lebih jauhnya…?

tentang … ah, bukankah itu semua juga di depan mata???

 

***

tanah yang kucengkeram seperti hendak melemparku jauh

ia memandangi kegelapan, kesunyian yang suram, muram

berhitung, seberapa sakit jika aku dihempas ke sana

 

tanah yang kucengkeram seperti hendak melemparku tinggi

ia tersenyum pada ketiadaan, gemuruh badai yang mendengki

bersepakat, seberapa kukuh jika aku dipelantingkannya

 

ia, tanah yang kucengkeram itu telah menudingku

kerontang sebab kemarau panjang dituduhkannya

aku, telah menghisap sumber kehidupannya

aku, yang meranggaskan diri seperti pohon jati yang nyaris mati

aku.

 

tanah yang kucengkeram itu tak acuhkan lagi

tapi aku bertahan

dengan seluruh keyakinan yang nyaris lantak

bersama ketakmampuan.

 

hujan pasti datang.

 

*** ditulis ketika akhirnya akan berangkat menuju sebuah “kerja”. Dengan sebuah “kerjasama”. Dengan… Huff…

 

“Anji**!” kau mengumpat. Tak cukup kepalan tangan yang biasa kau hantamkan pada dinding dan udara yang membisu. Tak cukup teriakan “HAHH!!!” untuk meluapkan kemuakan pikiranmu. Kau menyumpah. Dan tak biasanya begitu.

 

Lantas, wajahmu membatu. Tapi tak cukup melukiskan jiwamu yang meradang, yang jauh lebih menggemuruh. Sakit kian menyempurna. Tak bisa dirasa lagi.

 

Dan kau seperti tak menghiraukan ketika aku mendekat. Yang dengan sedikit ragu menenangkanmu. Tapi kau, seperti kau pada biasa-biasanya padaku, lekas melunak. Kau biarkan aku menarik tanganmu, membawamu pergi dari kebisingan itu.

 

Dzuhur saat itu. Dan siang begitu terik. Kau diam. Sekitarmu diam. Dan manusia sekeliling tak banyak yang bergeming.

 

Biar sayang, sejenaklah kita tak pedulikan riuh di luar sana…

 

Kali ini, padaku, kau tersenyum. Dan kau menggeleng. (***)

Transparansi. Keterbukaan. Mengapa kita kuatir akan segala bentuk transparansi? Padahal segala sesuatu yang bersifat publik, seharusnya memenuhi hak publik atas informasi apapun terutama terkait dengan profesionalitas, kinerja atau fungsi mereka sendiri terhadap masyarakat umum. Ambil contoh, laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban setiap lembaga—terutama lembaga negara. Audit atas laporan tersebut seharusnya dilakukan oleh BPK. Salah satunya karena kewenangan BPK sebagai lembaga auditor eksternal dari setiap keuangan negara. Tetapi nyatanya, otoritas tertinggi peradilan—Mahkamah Agung—menolak audit BPK atas biaya perkara. Alasannya antara lain pengaturan biaya perkara yang ada dalam KUHPerdata dimana biaya perkara hanyalah sebagai uang titipan (yang kenyataannya tidaklah demikian).

 

Nah, tulisan pendek ini tidak akan membahas hal itu. Hanya untuk bertanya: sejauh mana informasi publik yang dikategorikan sebagai hak publik tersebut? Dalam UU Keterbukaan Informasi Publik yang baru disahkan, memang telah terdapat banyak sekali ketentuan mengenai bentuk informasi publik tersebut. Yang diwajibkan dan yang diperkecualikan.

 

Tetapi, tentu mengecewakan ketika kita berharap sebuah keterbukaan dan kemudahan akses segala informasi untuk publik tersebut terhadap sebuah instansi atau apapun lembaga pemegang otoritas yang abai terhadap hak publik. Bukankah dengan demikian, justru akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan semisal “Mengapa tak transparan? Adakah yang perlu ditutupi atau dirahasiakan dari pengambilan suatu kebijakan (publik) ?” atau apapun yang bersifat mempertanyakan kinerja lembaga itu sendiri.

 

Sebuah lembaga negara yang tak penting untuk disebutkan namanya. Telah berjanji untuk memberikan sebuah informasi melalui telepon dan website. Tetapi kenyataannya, hanya dengan surat yang tanpa lampiran selembar pun. Terlalu sederhana. Dan hari ini, tujuh Mei, telah cukup waktu untuk menunggunya, berharap sebuah “tantangan” akan terjawab. Tentu saja (hanyalah) tantangan akan sebuah transparansi. Tetapi ternyata tak ada. Tak pernah ada.

 

Dan selamat. Selamat berkecewa atas hal itu. Karena agaknya masih berbau mimpi, jika berharap lembaga-lembaga yang telah terkenal misterius sepanjang keberadaannya kemudian akan serta merta transparan untuk suatu informasi “penting.” Dan adakah yang melarang rasa muak? “Maaf.”