You are currently browsing the category archive for the 'sketsauniversalia' category.
Kau dan ia menyapa. Ia yang telah lewat saja di depanmu dengan senyum terindah. Kau membalas senyumnya.
Esoknya ia menghiasi wajahnya dengan bedak tipis. Ia menjadi ingin datang padamu sesempurna yang ia bisa. Dan kau menyambut tangannya.
Kemudian kau yang mendandaninya, menjadikannya sesempurna penciptaannya. Kau bilang, beginilah seharusnya dirimu.
Tapi kau hilangkan kesadarannya. Dengan pemujaanmu…
Kau harus berani mengambil risiko. Kita hanya bisa memahami keajaiban hidup secara penuh ketika mengizinkan yang tak terduga untuk terjadi.
Setiap hari Tuhan memberikan kita matahari-dan juga satu momen, saat kita berkemampuan mengubah segala yang membuat kita tak bahagia. … ketika seluruh kekuatan gemintang menjelma sebagian dari diri dan memungkinkan kita melakukan keajaiban.
….
Ya, kita akan menderita, bertemu waktu-waktu sulit, dan mengalami banyak kecewa–tapi semua ini hanya sementara; jejaknya tak kekal. Dan suatu hari kelak, kita akan menoleh ke belakang dengan kebanggaan dan keyakinan akan perjalanan yang telah ditempuh.
Betapa menyedihkannya orang yang takut mengambil risiko. Mungkin orang ini tak akan pernah kecewa atau terdisilusi; mungkin ia tak akan menderita selayaknya orang-orang yang mengikuti mimpi mereka. Tapi ketika orang itu menoleh ke belakang–ada saatnya orang-orang mesti melihat ke belakang–maka ia akan mendengar hatinya berkata, “Apa yang telah kau lakukan dengan semua keajaiban yang pernah Tuhan berikan padamu? Apa yang telah kau lakukan dengan semua bakat yang dianugerahkan Tuhan padamu? Kau mengubur dirimu dalam sebuah gua karena takut kehilangan semua itu. Jadi inilah yang kai warisi: kepastian bahwa kau telah menyia-nyaikan hidupmu.”
Betapa menyedihkan orang-orang yang mesti menyadari ini. KArena saat akhirnya bisa memercayai keajaiban, momoen magis dalam hidup mereka telah berlalu.
by: Paulo Coelho
kau tidak akan mampu melukiskannya. atau sekedar mencoretkan tintamu di selembar kertas punyamu. tak ada hal yang bisa kau raba tentangnya. kemarin, sekarang atau pun esok.
ketika kau hadirkan dia, harusnya kau paham, ada dia, karena kau-manusia yang tak sempurna. bukan sosok yang memberimu hal berlebih, karena dia juga manusia sederhana. hingga kau tak bisa berbanyak mimpi.
kini, ketika dia melangkah sepi, kau pun harusnya ingat, awalnya ia abai padamu beribu kali. jadi, jangan pernah … maaf. (***)
Sebuah Sajak Sederhana yang Barangkali Lebih Baik Jika Aku Sebut Saja Sebagai Surat Kemudian Merelakannya Pergi Agar Suatu Petang Kau Menemukannya di Depan Pintu Sedang Menunggu Kau Pulang Kerja, Saat Kau Sangat Membutuhkan Sesuatu untuk Dibaca Sesaat Sebelum Cepat Istirahat untuk Segera Segar Bangun Pagi Lagi dan Kembali ke Kantor yang Dipenuhi Orang-Orang yang Tak Mau Memahami Kau, Orang-Orang yang Cuma Mampu Membuat Kau Semakin Tersiksa Merindukan Aku…..
Selengkapnya di:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/10/03000017/sajak-sajak
DRUPADI
Majalah Tempo Edisi. 10/XXXIIIIII/30 April – 06 Mei 2007
SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.
Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”
Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang—dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu….
Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. ”Budak!” seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. ”Hayo, layani aku, budak!” Suara tertawa—kasar dan aneh karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.
Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. ”Apa boleh buat, Bima,” kata kesatria tengah Pandawa ini, ”merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu—perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya.”
”Baiklah, baiklah,” sahut Bima. ”Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku” (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). ”Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku” (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), ”lalu akan kuminum darahnya, kuminum!”
Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek—bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak—tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini.
Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi?
Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.
Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.
”Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?”
Kali ini Resi Bhisma—yang termasyhur arif dan ikhlas itu—menjawab, ”Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri.”
Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan. (Goenawan Muhamad, ***)
SURAT
Majalah Tempo Edisi. 09/XXXIIIIII/23 – 29 April 2007
Kartini tak dikenal. Sebuah lagu yang memujanya dan dinyanyikan tiap 21 April menyebutkan betapa ”harum namanya”. Ia memang telah jadi aikon sejak dasawarsa awal abad ke-20, sebelum Bung Karno dikenal di pelbagai mimbar. Tapi Kartini lebih merupakan ”pokok” ketimbang ”tokoh”.
Ia sendiri memilih untuk berlindung. ”…aku ingin [menulis di surat kabar] tapi tidak dengan namaku sendiri. Aku ingin tetap tidak dikenal… di Hindia ini”—begitulah tulisnya dalam surat bertanggal 14 Maret 1902.
Ia seakan-akan memakai cadar. Ayahnya, sang Bupati Jepara yang mencintainya dan dicintainya itu, menjaga agar hal itu seterusnya demikian. Bapak itu gagal, sebab akhirnya Kartini mau tak mau dikenal. Tapi itu tak menyebabkan ia terjangkau orang ramai. Dengan catatan: ”cadar” sebetulnya bukan kiasan yang tepat di sini. Lebih baik dikatakan, Kartini bertatarias.
Ia tak sepenuhnya tak terlihat. Ia memperkenalkan diri dan mengisahkan harapan dan kemurungannya kepada sejumlah orang lewat surat-menyurat. Praktis hanya dengan korespondensi itu kita tegakkan Kartini sebagai tokoh. Atau lebih tepat sebagai pokok. Sebab Kartini tetap mengelak untuk disimak siapa sebenarnya dia.
Danilyn Rutherford pernah menelaah hal ini dalam sebuah esai, ”Unpacking a National Heroine: Two Kartinis and Their People”, dalam jurnal Indonesia yang terbit di Cornell University; ia membandingkan buku S. Soeroto, penulis Kartini, Sebuah Biografi, dan Pramoedya Ananta Toer, yang menulis Panggil Aku Kartini Saja. Kesimpulannya: semua tulisan tentang ”pendekar kaumnya” ini hanya tafsir, dan tiap tafsir merupakan hasil ”penetrasi politik tertentu ke dalam teks tertentu”.
Yang tak dibahas adalah bahwa jarak antara ”Kartini-yang-sebenarnya” dan ”Kartini-dalam-tafsir” justru terjadi karena medium yang dipilih Kartini sendiri.
Seandainya ia menulis catatan harian, dan kita bisa menemukannya….
Di sebuah kesempatan lain pernah saya katakan catatan harian adalah curahan konfesional tanpa pastor. Dalam medium ini, sang penulis masuk dan diam di sebuah ruang komunikasi yang paling intim, tapi juga berada dalam ruang pikiran dan imajinasi yang hampir tanpa batas. Tak ada orang lain. Atau orang lain itu (seperti dalam catatan harian Anne Frank) diciptakannya sendiri dan berada di bawah ampuannya: teman bicara imajiner itu tak bisa menjawab.
Kecuali bila seseorang sadar bahwa catatan hariannya suatu ketika akan dibaca orang, ia praktis bebas dari tatapan orang lain. Ia tak berada di pentas.
Ia akan berada di pentas menghadapi orang banyak jika ia jadi sosok media massa. Tapi ada paradoks dalam teknologi Guttenberg dan kapitalisme-cetak: media massa itu menjangkau sebuah audiens yang besar, ia bisa luas didengar, tapi ia juga membuat seseorang rentan. Sang penulis bisa merasa dalam kekuasaan. Tapi ia juga dalam sorotan yang tak bisa dikendalikannya.
Sebab ia tak mengenal audiensnya dengan akrab. Ia hanya menduga-duga, baik tingkat informasinya maupun potensinya menerima informasi baru, baik nilai-nilainya maupun kecemasannya.
Ketidakpastian inilah agaknya yang menyebabkan Kartini gentar dan mengelak. Ia memilih berkorespondensi antarteman.
Dalam korespondensi, ada seorang lain yang nyata, yang bisa bertanya dan bereaksi. Orang lain itu juga dapat diidentifikasikan, dan dari sini lebih mungkin terjalin keakraban.
Tapi apa boleh buat, keakraban itu mengandung ambivalensi.
Ini tampak dalam surat-menyurat Kartini dengan Stel-la Zeehandelaar. Perempuan muda dari Belanda ini ”sahabat pena”-nya. Persahabatan itu terjalin, tapi di antara kedua penulis surat terbentang jarak ribuan kilometer. Keduanya hanya dihubungkan dengan sebuah instrumen kecil untuk menyampaikan kata-kata: ”pena”.
Itu sebabnya Stella—yang surat-suratnya tak pernah diketemukan—tampil sebagaimana Kartini merautnya dengan pena itu. Juga sebaliknya: kepada Stella, Kartini merepresentasikan diri terbatas sebagai respons terhadap surat sahabatnya. Ia bernegosiasi, dengan menggunakan bahasa yang ia pelajari, untuk menyesuaikan dan mengubah persepsi, untuk merumuskan identitas atau memodulasi identitas itu, untuk memilih apa yang dikatakannya dan apa yang tak dikatakannya.
Itu sebabnya, dalam surat-surat Kartini, ungkapan ekspresif silih berganti dengan kalimat yang menjelas-jelaskan. Kehangatan dan keakraban silih berganti dengan rasa berjarak. Stella, yang disebutnya ”pasangan jiwa”, tetap seorang asing.
Dengan kata lain, ke arah Stella, Kartini memakai rias. ”Panggil aku Kartini saja,” tulisnya—sebuah kalimat yang mungkin lebih merupakan cara Kartini untuk memudahkan Stella memahami dan menerima dirinya, seraya memudahkan dirinya sendiri dalam memilih identitas. Apa arti ”Raden Ajeng” bagi seorang Belanda yang pengertiannya tentang aristokrasi berasal dari sejarah Eropa? Apa arti gelar itu bagi seorang gadis Jawa yang tahu dirinya tak 100% berdarah ningrat?
Kepada Stella Kartini mengatakan, ”Ibuku masih sangat terhubung dengan Kerajaan Madura.” Tapi Kartini tahu, dan Stella tidak, bahwa ”Ibu” di sini bukanlah ibunya sendiri, melainkan ibu tirinya, permaisuri Bupati Jepara. Status ibu kandung Kartini, seorang dari kelas bawah, hanyalah selir.
Tapi haruskah semua jelas tentang sebuah aikon? Bahkan sebagai aikon, orang dapat membacanya secara bertentangan. Dalam lagu karya W.R. Supratman itu ia disebut ”pendekar bangsa, pendekar kaumnya”, tapi yang bagi saya menyentuh dalam sosok Kartini justru dirinya yang terbelah: ia menjerit dan sebab itu didengar, ia korban dan sebab itu jadi lambang. Kita tahu akhirnya ia gagal: seorang penentang poligami yang mati muda sebagai seorang madu. Tapi kegagalan itulah yang menunjukkan betapa tak adilnya sistem tempat ia hidup—dan Indonesia pun berteriak, ”Jangan, jangan lagi!” (Goenawan Muhamad, ***)
Sedikit Tulisan:
Kedua ”Catatan Pinggir” di atas, adalah tentang dua tokoh perempuan. Pengawalan Drupadi dalam penggalan Mahabaratha di atas bisa menjadi sebuah latar belakang perjuangan Kartini—dan perempuan-perempuan lainnya. Bagaimana sekarang???
Sabtu kali ini harusnya aku belajar, mempersiapkan diri untuk ke Temanggung selama seminggu esok. Minimal belajar sekian modul itu agar penyusunan tugas esok lebih efisien. Lebih baik lagi jika belajar sekian banyak hal untuk menambal ketidaktahuanku selama mengikuti kuliah seharian penuh ini. Menulis lagi remeh temeh, atau bahkan beberapa hal yang cukup perlu untuk ku tulis, sebagai pengingat untukku sendiri.
Tapi tetaplah banyak godaan, salah satunya film. Ups, bukan karena aku maniak film. Kadang, mataku terlalu lelah untuk bisa bertahan memelototi layar datar itu lebih dari dua jam. Kebetulan tidak. Meski “21” itu juga telah dibangun di gedung bioskop lama yang terbakar itu, aku tak juga tertarik berebut kegelapan di salah satu ruangnya. Huf, bagaimana pun, bioskop itu telah semakin mempermacetkan jalan satu jalur ke arah RS. Bethesda ini.
Tapi, sekali lagi, aku suka film-film kolosal. Film dengan nuansa warna coklat, dengan kesan jadulnya. Bukan karena heroisme dalam film kolosal yang menarikku, karena aku tak cukup suka hero-hero yang modern-futuristik itu. Film-film yang humanistik juga sangat ku suka. Begitu juga, film yang membuat kening berkerut karena tak sekedar bernuansa entertain, juga ku sukai. Ya, ku kira, nilai-nilai moral baiknya terkandung dalam sebuah skenario. Tak perlu jauh-jauh dari realitas yang ada, baik itu tentang masa lampau, bahkan esok.
Kali ini, sebuah judul film menggodaku untuk mengabaikan lembar-lembar modul itu, lebih dari dua jam. Hanya di depan televisi. Padahal, sebenarnya tak banyak yang menyukai jenis film ini. Mungkin karena kadang, memang sangat menjemukan menunggu usainya. Tapi film ini sudah pernah ku tonton. Di situlah menariknya. Film ini tetap menggodaku, meski pun aku telah pernah menikmatinya sendiri, dengan khusyuk. Aneh!
Apakah karena film ini sedemikian bagus? Atau aktor-aktrisnya sedemikian menarik? Hmm, mungkin keduanya. Tapi banyak hal menarik yang memang masih bisa kunikmati sepanjang alurnya. Bahasa tubuh dari pemainnya, kata-katanya yang penuh makna dan tersusun indah, dan ide pokok tentang perjuangan antara kepentingan pribadi (cinta dll.nya) dan cinta tanah air. Dan di pihak lain adalah kecintaan terhadap negara yang cukup fanatik. Meski kemudian ia menyadari kekeliruannya. Hhm, tapi memang tak akan ku tulis lebih jauh, karena ketika teman-temanku tahu aku menontonnya lagi, itu tidak menjadi hal yang cukup baik, hehe…
Oya, satu hal lagi. Aku menontonnya untuk yang kedua kali karena film itu berakhir dengan sedih sekali dari segi pribadinya sebagai makhluk biasa. Meski pun cukup baik, dan tetap ada kedamaian beserta ketenangan pada diri tokoh perempuannya. Ya, pengorbanan yang amat besar dilakukan demi pengabdian kepada bangsanya. Begitu juga harusnya kita. Dengan caranya sendiri, meski terkesan sepele pun. Terhadap apapun, tak hanya negeri tercinta. Meski kadang, pengorbanan itu sempat menjadikan kita ragu akan hal mana yang harus jauh lebih diprioritaskan, dan hal mana yang bisa sementara waktu ditunda.
Ya, film ini cukup berbeda dari keumuman film-film jenisnya yang banyaknya begitu-begitu melulu. Dan itu jelas layak diapresiasi, untuk tidak begitu saja digeneralisir sebagaimana film-film dari daerah seberang itu. (***)
Seorang kawan yang belum pernah ku kenal sebelumnya (maaf), menyapaku di suatu sore. “Hi…” Mulanya, aku tak tahu bagaimana fasilitas dunia maya itu begitu saja nongol di sudut jendela yang tengah ku baca (dasar gaptek!). Dan untuk pertama kalinya, aku memanfaatkannya. Padahal, tadinya aku hanya berniat untuk ‘googling’ tentang beberapa hal aktual yang semakin jarang ku ikuti perkembangannya.
“Aktif dimana sekarang?” ups, pertanyaan yang sedikit aneh. Ku bilang habis pulang dari diklat. “Memang kerja dimana?” Setelah aku menyebut sebuah instansi, ia bilang, “Sayang ya, kok nggak di Bappenas aja. Mungkin bisa memberi kontribusi tentang agraria di sana..” (aku ingat, Mr. Raf : Aduh! Selamat ya) Lho!?? Siapa orang ini, kenapa dia menghubungkanku dengan agraria. Telah mengenalkukah? Hmm, lucu juga jawabnya. Dia adalah seorang kawan sekampus, seorang aktivis yang tetap mempertahankan idealismenya itu hingga setelah usai berkutat di lingkaran gedung-gedung angkuh bernama kampus (semoga hingga kelak). Tapi tentu saja aku tak bisa menduga bagaimana dia tahu tulisanku semasa kuliahku dulu, sehingga dia bisa berkomentar tentang itu.
Sapaan yang hanya beberapa menit itu mengingatkanku kembali. Atas jalan yang telah ku tempuh. Ya. Anggaplah aku bersembunyi di balik dalih bahwa beberapa faktor mendesakku untuk segera mengambil pilihan. Tapi bukankah konsekuensi apapun dari pilihanku ini harus ku nikmati sebaik-baiknya.
Kita bisa merencanakan. Dan bisa meraih mimpi-mimpi, jika kita yakin dan teguh. Tapi kita tak selamanya tahu. Persimpangan mana yang harus kita lewati, dan manakah pilihan yang terbaik. Tapi setidaknya, kita bisa putuskan yang lebih baik. Dan berupaya semoga pilihan itu memang akan membawa kebaikan. Apakah aku hanya ber-omong kosong??
Tapi jujur, aku ingin tersenyum. Atas semua. Mungkin dengan senyum yang sedikit aneh.(***)
Kadang kita larut dalam rutinitas. Sejenak lupa mimpi-mimpi kita yang lain, yang tentulah tak mungkin dipeluk dalam kejenuhan. Sejenak lengah akan hasrat yang merindui diri kita sendiri. Yang seakan entah dimana, tapi sesungguhnya begitu lekat.
Aku, atau pun kita, yang sedang mencoba untuk menorehkan setitik warna di atas kanvas hidup. Mencoba untuk menuliskan jejak-jejak pada jalan yang ditempuh. Mengabadikannya dalam memori, dan membuatnya tak sekedar ingatan tentang masa lampau.
Tapi rutinitas ternyata membuatku—kita terjebak. Tiap waktu yang mengharuskan kita terus-menerus berjibaku dengan kerja, dari ketika matahari masih malu-malu menghangatkan dunia, hingga bulan-bintang menggantikannya.
Bagaimana mungkin, aku seperti terlalu sibuknya hingga tak lagi menulis serius, hanya menuliskan remeh-temeh saja. Tak menyempatkan diri untuk memperbarui tulisan yang sedikit lebih ilmiah, sedikit lebih kritis, sedikit lebih… Ah! Agaknya waktu 24 jam sehari, tujuh hari seminggu seperti tak cukup saja, padahal sangat jelas, aku tak sesibuk itu sama sekali. Tapi menulis satu hal saja tak kunjung selesai. Menulis satu ide yang muncul saat melaju motor di pagi hari dengan mentari yang menyilaukan pandanganku menuju ujung timur Jogja itu. Atau sedikit hal yang ku lihat sewaktu pulang, seperti kelompok seni lokal—entah apa namanya itu, di bawah jembatan layang yang beberapa kali ingin ku apresiasi tapi selalu urung oleh lampu hijau yang segera menyala (alasan!). Atau, aduh, Jogja ini telah sangat padat. Telah sangat riuh.
Beberapa ide dari kawan-kawan tak cukup menyulutkan api untuk menulis sebuah analisis. Bagaimana dengan beberapa hal keagrariaan yang telah lama tertunda. Kabar instansi itu. Heii…, bagaimana dengan “golput”-ku. Bagaimana dengan …
Jangan-jangan karena hasratku sejenak teralihkan, atau kemalasan sedang memelukku, atau ah, entah. Sensitivitas harusnya selalu dipelihara. Karena mata seringkali tak cukup bisa membaca sekeliling kita. Karena kita tak bisa berharap cahaya akan selalu menerangi kita. Api selalu menghangatkan kebekuan. Tapi kitalah yang harus menghidupkan api dalam diri kita sendiri.(***)
kaki-kaki kecilku riang menapaki jalan setapak di samping sungai di sebelah timur rumahku. teman-teman lelaki cilik sekampung telah asyik di sana. mereka teriak-teriak, girang dengan layang-layangnya. teman perempuan mandi di kali. biasanya aku juga beserta mereka. tapi tidak hari ini, mungkin esok-esok juga.
aku ingin main layang-layang. mulanya ingin layang-layang yang apik, warna-warni, ekornya panjang. kata temanku, banyak dijual yang bagus-bagus begitu. tapi aku harus nabung dulu, karena harganya cukuplah untuk jatah jajanku beberapa minggu. sebuah layang-layang dengan gambar gatotkaca sudah ku pesan jauh hari biar tak dibeli yang lain. kata abang yang jualan, terbangnya seperti gatotkaca. elok benar, pikirku.
benar saja, setelah rela tak jajan dua minggu lebih, gatotkaca itu bisa ku bawa pulang. ibu tanya, untuk apa. ku bilang, ingin main dengan teman-teman di sawah siang nanti. ibu tak suka. kata ibu, aku nonton saja, biar bocah laki-laki yang main. aku tak mau. aku ingin main layang-layang.
tapi tak jadi main memang, gatotkaca itu hilang, padahal aku ingat sekali dimana menaruhnya. aku hampir saja nangis, tak tahu kenapa gatotkaca lenyap begitu. tapi aku benci sendiri kalau cengeng, jadi aku main saja ke sawah. lari, dan terus lari. aku nonton saja. berteriak-teriak, ketawa-tawa kalau angin kencang menerbangkan layangan hingga nyasar, nyangkut di pohon, putus. aku lihat saja semua itu, sambil berpikir bagaimana agar esok aku bisa beserta mereka. melambai-lambaikan mainan itu. kalau bisa, ikut lomba mereka. siapa yang paling tinggi menerbangkannya, paling indah meliukkannya, dan paling tahan lama, itulah yang menang.
sepupuku datang: ayo pulang! ia sampaikan pesan ibuku, sekaligus ancaman akan dimarahi. tapi ayah yang menyambutku di pintu rumah, ibu masih menyiapkan makan sore di dapur. ayah tanya: darimana dan habis main apa. ia senyum dan tangannya yang mengelus pelan rambutku. aku tahu, ia tak marah.
… aku ulur. ia mengudara. ku ulur lagi. angin membawanya terbang melesat. ku tarik. ulur lagi. ia semakin tinggi. aku melepasnya. bebas…(***)

SKETSAKITA