You are currently browsing the tag archive for the 'catatan pribadi' tag.
Sebuah cerita memberikan keleluasaan bagi pembacanya untuk berimajinasi, menafsirkan sendiri. Ketika itu divisualisasikan dalam bentuk film, maka menjadi mungkin, terjadi ”pembatasan-pembatasan” terhadap imajinasi tersebut berdasar penafsiran pihak-pihak terkait pembuatan film itu sendiri. Sesuatu yang tadinya dibebaskan dengan segala variasinya, kemudian ”diseragamkan” oleh sebuah ”batasan.” Sehingga dengan demikian, menjadi mungkin juga, apabila muncul rasa puas atau pun kecewa ketika pembaca cerita menikmati ”hasil pembatasan” itu.
***
Sebuah film, ”Ayat-Ayat Cinta,” telah disebut sebagai film fenomenal. Setelah JK dan Habibie beberapa hari lalu menontonnya, Jum’at malam tanggal 28 Maret 2008, SBY pun menonton film tersebut bersama beberapa menteri dan duta besar negara tetangga. Katanya, SBY sempat menitikkan air mata.
Hal itu memunculkan keheranan pada diriku, seberapa bagus film tersebut?
Film itu diadaptasikan dari sebuah novel yang juga fenomenal dengan judul yang sama. Beberapa tahun lalu, aku telah ditawari seorang teman yang telah memiliki buku itu. Katanya, detail Mesir yang dilukiskan Habiburrahman sangat bagus. Tapi sebelum aku merasa tertarik untuk membacanya, seorang yang lain bilang bahwa ia kecewa membaca novel itu. Sebabnya adalah, idealisme si tokoh utama yang sangat mengemuka di awal-awal cerita kemudian bergeser menjadi kehidupan pribadi yang diwarnai cinta (saja), dimana si tokoh-pemuda Indonesia yang kuliah di Mesir tersebut dicintai oleh empat orang perempuan sekaligus (hmm…). Dan akhirnya, hingga teman pemilik novel itu pergi pun, aku belum juga membacanya.
Novel itu beredar di sekitarku lagi, ketika muncul berita tentang pembuatan film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu. Tapi kumpulan essay Goenawan Muhamad yang 1500 halaman itu jauh lebih menarik untukku. Lagipula beberapa buku harus kubaca menjelang ujian awal Maret kemarin. Bujukan dan promosi sukarela dari teman-teman yang telah baca ternyata tidak cukup menggodaku. Sehingga, demikianlah, novel itu tak juga kusentuh, belum kupinjam bahkan.
Dan kemudian film itu diputar. Kudengar, antrian menunggu panjang sekali di beberapa bioskop. Beberapa teman menonton juga, tapi dari bajakan hasil men-download di internet. Padahal itu baru beberapa hari setelah pemutaran perdana film itu. Dan aku tetap enggan menerima ajakan mereka untuk menonton di kamar sebelah. Saat mereka nonton, suara heboh kudengar. Tapi lucunya, itu adalah karena kritik-protes dan kecewa. Meski begitu, simpulan dari komentar mereka adalah bagus, jika belum membaca novelnya. Aku jelas tersenyum mendengarnya.
Tapi beberapa hari berikutnya, justru yang membuatku cukup penasaran adalah ketika kudengar wawancara sebuah TV swasta dengan Fedy Nuril (pemeran tokoh Fahri), tentang betapa baik dan beruntungnya seorang Fahri itu. Kemudian, seorang teman mengajak pergi ke sebuah plaza yang hingga kini belum juga kujejaki (aku bilang, aku tidak tertarik untuk ke sana, dan sepertinya tidak akan pernah ke sana). Jadi, tentu saja ajakan kutolak.
Tapi kemarin, temanku mengajak nonton di rumah. Hasil copy-an teman sekampusnya dari internet, yang ternyata beberapa adegannya terpotong tak jelas. Hmm, internet memang bisa dijadikan sebagai alat apa saja, tergantung yang menggunakan. Di tengah gencarnya gerakan anti pembajakan sebuah karya, ternyata aku justru menikmati hasil bajakan itu, ckck…
Dan berakhirlah. Selesai. Film itu berakhir begitu saja bagiku. Dan aku heran, kenapa tidak cukup membekas, sosok Fahri yang konon ”ideal” itu. Sosok yang justru menjadi alasanku untuk—akhirnya—mau menonton, ternyata berlalu begitu saja. Ya, mungkin karena beberapa adegan terpotong. Mungkin karena memang aku tak cukup menikmatinya, di tengah protes-protes temanku di sepanjang jalan cerita film itu. Mereka bilang seharusnya tak terjadi poligami, mereka juga memprotes peran dari beberapa tokoh itu. Dan mungkin karena dialog yang terjalin—dengan Bahasa Indonesia, Bahasa Arab dan kadang Bahasa Inggris—tidak kupahami relevansinya, kapan digunakannya. Mungkin karena aku bertanya, mengapa Aisyah menggunakan cadar yang demikian, sedangkan Nora tidak, apakah itu karena status sosial mereka? Dan mengapa …? Atau mungkin karena … Ya, mungkin karena memang aku belum membaca novelnya. Bisa apa saja memang penyebab aku tak cukup menikmati film itu, toh aku pernah tertidur saat orang-orang di sekitarku terpesona oleh Harry Potter I yang diputar pertama kali di Gedung Fisipol Barat itu. Saat suara gemuruh begitu dahsyat di gedung yang sedang digelapkan itu.
***
Sebuah cerita, novel atau apapun, memberi keleluasaan bagi pembacanya untuk berimajinasi dengan penafsirannya sendiri akan cerita. Dan demikian juga bagi penulis skenario, sutradara, pemain film, bisa mempunyai penafsiran tersendiri. Sehingga ketika cerita tersebut divisualisasikan—dalam bentuk film misalnya, wajar ketika muncul ketaksamaan dengan masing-masing imajinasi itu.
Apalagi jika novel Ayat-Ayat Cinta itu dinilai kental dengan nuansa religiusnya. Sehingga ketika aspek religius-idealis yang justru menjadi bagian pokok yang menarik dari novel tersebut, ternyata tereduksi (katakanlah demikian) menjadi melulu tentang hal-hal pribadi, maka wajarlah jika muncul sedikit kecewa pada para pembaca itu. Demikian juga pelukisan Mesir yang detail menjadi tak cukup tergambarkan, karena film itu memang dibuat di India. Nuansa Mesir terutama budayanya tak terlalu tampak. Dan ending cerita yang ternyata cukup berbeda juga menjadi satu hal yang bisa mengecewakan.
Permasalahan lainnya adalah karena film dibatasi oleh waktu. Durasi yang terbatas itu seringkali menjadikan sebuah alur cerita dipersingkat atau bahkan dipotong. Ketika pemotongan itu tak cukup tepat, maka penyampaian cerita bisa menjadi kurang tepat. Film the Da Vinci Code adalah contoh dimana film itu baru bisa lebih dimengerti jika telah membaca novelnya. Tentu saja karena ceritanya cukup berat dan merupakan rangkaian panjang dari sebuah perjalanan yang hanya beberapa hari. Sehingga pengambilan pokok-pokok cerita yang dinilai penting mutlak dilakukan agar hasilnya baik.
Selain itu, penelitian yang mendalam tentang ”background” dari sebuah cerita, bisa menghasilkan sebuah representasi yang baik dan lengkap dari cerita itu. Termasuk tentang penulisnya, sehingga bisa dimengerti tujuan dan maksud dari pembuat cerita itu sendiri. Hal itu karena novel yang diadaptasikan tersebut adalah sebuah cerita fiksi. Sedangkan jika novel itu adalah sebuah pengalaman nyata atau nonfiksi, maka pendalaman akan lebih tepat dilakukan ke sumbernya langsung atau yang berkaitan langsung dengan sang tokoh. Ini tentunya harus dengan survei yang lebih mendalam dan sulit. Film Gie misalnya (film Hollywood jelas banyak contohnya), nuansa tahun 70-an baik itu kehidupan politik, sosial-ekonomi dan aktivitas kehidupan lainnya perlu digambarkan dengan baik agar ”soul”-nya didapatkan. Meskipun ”bumbu-bumbu” juga ditambahkan pada film itu, tetapi syarat tidak mengubah cerita pokok yang sebenarnya adalah diperlukan. Dengan demikian, film pun tetap menyampaikan sebuah ”kebenaran” pada penikmatnya.
Bagaimanapun, sebuah film yang telah ditonton lebih dari tiga setengah juta penduduk Indonesia itu tentulah layak diapresiasi, karena kehadirannya yang cukup berbeda di tengah kelatahan cerita perfilman yang ada. (***)

SKETSAKITA