You are currently browsing the tag archive for the 'cinta' tag.

 

Tidaklah cinta lahir dari sebuah iba

Pun rasa bersalah

Ia bisa lahir dari pergulatan-pergulatan yang tidak mudah

Tapi ia bisa juga lahir dari episode yang sederhana

Mungkin karena ia ada oleh dirinya sendiri.

 

(dari seorang yang memberi inspirasi… sebutlah demikian, karena sesungguhnya aku lupa. Mungkin dari GM, atau siapa )

 

Fragmen 1

 

Lelaki dari Masa Lalu

 

Ia tiba-tiba datang, untuk kedua kalinya di Idul Fitri ke empat. Pertemuan yang aneh karena meskipun Zahra telah mencoba mengumpulkan memorinya, tetap saja gagal mengingat siapakah lelaki itu. Sehingga wajarlah, jika perbincangan yang terjadi adalah sekedarnya. Tapi lelaki itu bicara banyak, tentang masa lalu, dan masa sekarang. Juga esok.

 

Dan beberapa perbincangan pun berlanjut. Hingga suatu ketika, sang pria menyatakan keseriusannya. Tapi ah, hanya ucapan terimakasih beserta maaf yang dengan terpaksa Zahra sampaikan.

 

Pernikahan tak sekedar tentang kesiapan salah satu pihak. Bahwa ia baik, agamanya baik, keluarganya baik, kerjanya baik. Tapi baiknya juga pihak lainnya.

 

Tiga tahun berselang. Zahra mendapat kabar, lelaki itu merantau ke negeri seberang. Dan komunikasi kembali terjalin. Dan berakhir lagi ketika pertanyaan yang sama mengemuka kembali.

 

Toh, kadang cinta tak mudah dimengerti. Ia datang ketika tak direncanakan. Tapi mungkin juga, tak datang.

 

 

Fragmen 2

Saga Bening

Bulan tinggal separuh

Ketika ku hitung bintang,

Satu, dua, tiga…

Seribu…satu.

Syit!

Jangkrik bermata akik!

Ku rindu bulan malah kejatuhan bintang

Ku tahan sumpah serapahku

Bintang itu… (insp. by …. ‘05 )

 

Saga menghela nafas dalam. Puisinya—setelah sekian lama dipahatkannya dalam hati, yang kadang meragu—tersampaikan sudah.

* * *

 

“Saga…api. Bening…air. Dua elemen utama kehidupan.”

“Air memadamkan api, Saga”

“Kau inspirasi setiap kata dalam puisi-puisiku.”

“Lebih karena nafas yang hidup dalam hati dan pikiranmu… Aku hadir dalam kehidupanmu adalah suatu ketaksengajaanku. Pun ketaksengajaanmu”

“Tapi kesengajaan-Nya, Bening”

“Anggaplah aku musafir, Saga. Yang sejenak singgah untuk kemudian harus melanjutkan perjalanan. Dan jika kau percaya pada roda hidup ini, mungkin waktu akan membawaku kembali. Atau juga tidak.”

“Tapi aku belum pernah membukakan pintu untuk seorang musafir. Menyilahkannya singgah di gubuk kecilku…memberi air penyembuh dahaganya…membagi suapan untuk rasa lapar sang musafir…. Apalagi memberinya tikar—meski lusuh—untuk sekedar mengistirahatkan lelah…!”

“Menyesalkah kau, Saga?”

“Kenapa kau lakukan, Bening?”

“Kau seperti putus asa. Dan aku tidak mengenal Saga yang demikian.”

* * *

 

Kala bulan menghilang

Seribu, sejuta bintang gemintang melebihi arti sepotong bulan

Kau baru akan menyadarinya, mungkin

Bintang selalu setia pada bulan, meski kadang tak sebaliknya

Kerelaannya meredup di bulan purnama adalah bukti

 

“Apa maksudmu, Bening? Tidakkah kau ingin meyakinkanku, tentang dirimu?”

“Tidak, Saga. Aku tak bermaksud apa-apa. Selain menjalin sebuah komunikasi dua jiwa, yang kebetulan berbeda. Lelaki, dan perempuan.”

“Tapi kau biarkan aku meyakininya…!”

“Kau menyalahkanku, Saga?”

Dentang jarum merah pada jam dinding terasa lebih keras mengiringi degup jantung Saga. Penantian atas kata yang sekian lama didambanya terjawab sudah. Sontak, luka.

* * *

 

Dan penobatannya sebagai seorang “filosof,” beberapa waktu kemudian, dihadiri Saga sebagai sebuah seremonial yang muram. Bening, perempuan bermata bintang yang dihadirkan dalam setiap permenungannya, tak juga hadir—meski telah dipinta semalamnya. Dan Saga pun tak pernah melihatnya.

 

Fragmen 3

Tentang Setitik Cinta dari Gibran

 

Aku mengharapkanmu…” katamu di penghujung hari setelah kau dan aku wisuda. Dalam sebuah perpisahan yang kita adakan dengan kawan-kawan seperjuangan. Tentu saja perjuangan menyelesaikan pembelajaran di gedung bernama universitas itu, yang kadang terlalu menjenuhkan.

 

Tak setiap yang kita inginkan, kita dapatkan,” kau segera menjawab, seolah meralat. Aku hanya memandangmu. Lantas kau tertawa. Kau senandungkan sebuah syair yang lamat-lamat kuingat. Sebuah karya dari Gibran. Sajak yang kadang kuprotes, tapi kau bilang itu tentang ketulusan.

 

Cinta hanya mengajarkan kepada saya, untuk melindungimu… Bahkan dari diri saya sendiri… Adalah cinta yang bebas dari api,… yang menahanku dari mengikutimu pergi ke tempat yang jauh… Cinta yang terbatas mencari kepemilikan dari orang yang dicintai… namun cinta yang tak terbatas hanya mencari dirinya…

 

 

Fragmen 4

Dan, Seorang Bertanya …

 

Beberapa waktu terakhir ini, seorang sahabat perempuan bercerita. Tentang dirinya, yang berencana menikah. Dengan seorang teman baru yang dikenalnya setengah tahun lalu. Padahal, baru bulan kemarin ia bilang: “Masak sih aku sama dia? …” Haha, bukankah benar, cinta kadang tak mudah dimengerti. Kapan ia tumbuh, benarkah cinta lahir “jalaran soko kulino”? Atau bisa sama sekali tak terduga? Tapi benar, cinta tak melulu tentang ketertarikan hati.

 

Dan aku masih saja terngiang-ngiang akan sepenggal surat Chairil pada HB. Jassin. ”Orang selalu saja salah sangka, tapi mereka akan menyesal di hari kemudian, karena aku akan sanggup membuktikan bahwa karya-karyaku ini bermutu dan berharga tinggi. Jangan kita putus asa Mirat, aku akan terus berjuang untuk memberi bukti”.

 

Dan sepenggal “Sajak Putih, Buat Tunanganku Mirat”

Kubentuk dunia sendiri
Dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kecuplah aku terus, kecuplah
Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku
….

 

 

Cinta, adalah kekuatan. Jika ia mampu meluluhlantakkan, kau baiknya percaya ia membangun yang lebih baik. Dan meski ia juga tentang ketulusan, tapi ia adalah kemampuan untuk memperjuangkan. Bertahan, bukan sekedar melepaskan. Ia adalah harapan.

Lantas, ia pun bertanya. Kapan kau menikah? Hmm, jika bukan senyum saja yang kuberikan, maka “Doakan segera kudapat, waktu yang tepat, dengan orang yang tepat…” Ia seperti tak percaya saja pada sahabatnya ini, perempuan yang selalu meyakinkan diri, Umur dan pandangan orang, bukanlah faktor yang mendesakku untuk segera menikah.”

 

Adalah pernikahan, tak sekedar tentang cinta. Tapi, jika kau percaya, ia hanya membutuhkan dua manusia yang sadar akan ketaksempurnaannya, yang punya tekad untuk selalu belajar bersama, untuk tujuan bersama… Jika kau bisa meyakini bahwa itu sudah cukup, maka ku kira, “berbahagialah…” (***)

 

Epilog

 

Tidaklah cinta lahir dari sebuah iba

Pun rasa bersalah

Ia bisa lahir dari pergulatan-pergulatan yang tidak mudah

Tapi ia bisa juga lahir dari episode yang sederhana

Mungkin karena ia ada oleh dirinya sendiri.