You are currently browsing the tag archive for the 'kaum termarginal' tag.

 

(Ini bukan puisi, adekku…

Hanya sebuah bisikan, surat pendek yang mungkin tak tersampaikan)

Kau bilang, ingin jadi psikolog, kelak

Tuk lindungi teman-temanmu

Adik-adikmu

Saudaramu

Di jalanan

Dari kejahatan di riuhnya Jakarta

Kekerasan, pun pelecehan yang acap menderamu

Hmm, mungkin dari arogansi aparat tibum

Dan dari eksploitasi sesama yang “bukan manusia”

Ya, adekku…

“dari dan untuk”

Landaskan itu pada citamu

Dari, karena kau akan lebih mampu berempati

Tak sekedar untuk

Kepentinganmu, pun kepentingan “mereka”

Siapapun, di luar sana yang tak cukup paham

——

            

Tetaplah tersenyum, adekku. Jika kau temui seorang yang enggan memberimu sekeping receh, atas senandung hidup yang kau suarakan dengan petikan gitar, bersama kawan-kawanmu. Mungkin ia sedang tak punya receh, hanya lembar puluhan ribu—yang maaf, itu bisa jadi terlalu mahal—meski liku hidupmu jelas jauh lebih mahal dari royalti sebuah lagu dengan sepuluh platinum pun. Ah, tentu kau mengerti. Sekarang, hampir setiap hal dinilai dengan uang. Jika tak mendatangkan keuntungan, maka tak usah berharap…

 

Atau berpikirlah, bahwa mungkin ia kuatir andil dalam pengeksploitasian anak, atau eksploitasi kemiskinan yang marak terjadi—sindikat itu sudah rahasia umum, adekku… Bukankah kau juga paham, memberi seharusnya berarti mengajak, dan menghormati. Kata mereka, “harus mendidik” (seolah kau memang tak terdidik). Mungkin karena kadang, sebagian dari kawanmu seolah menggunakan kepingan uang itu untuk hal-hal yang tidak tepat, tidak terlalu penting. Ah, maafkan untuk penilaian itu adekku. Memang kadang tidak mudah untuk menyingkirkan kesan “jalanan identik dengan kekerasan”. Bukankah memberi juga tidak untuk membiarkanmu terus dengan kehidupan yang ‘demikian’.

 

Lagipula, sebentar lagi, berderma di jalan-jalan akan dikriminalisir, adekku. Kau sudah tahu kan, Perda tibum itu? Mereka bilang, kalian—termasuk kau—harus ditertibkan. Kau mengerti kan artinya “ditertibkan”? Kau pernah dengar istilah eufimisme kan? Maksudku, kau tak usah kaget, jika suatu saat nanti ternyata itu hanya suatu penghalusan kata. Bukankah kadang kita tak begitu menyukai kevulgaran suatu pengungkapan, terutama atas hal-hal yang konon tabu.

 

Ah, bukan maksudku, mengingkari suatu ‘niat baik,’ adekku… Karena itu, aku hanya bisa katakan “Berhati-hatilah dalam hidupmu….” Bukankah pesan itu sangat umum—ayahku juga berpesan demikian di setiap perpisahan denganku.

 

Nanti, setelah Perda itu diberlakukan, kalian tak lagi boleh mengamen di jalan. Juga tak ada lagi mereka yang berharap derma dari pengendara. Karena tak hanya kalian yang akan dinilai melanggar Perda, juga penderma itu. Dengan begitu, mungkin diharapkan orang akan berderma di yayasan, atau lembaga-lembaga terorganisir saja. Bukan di perempatan jalan. Agar penggunaannya menjadi lebih tepat. Bukan untuk sekedar merokok misalnya, atau kesenangan lain. Ya, begitulah Perda yang kudengar, adekku. Harapannya, mungkin mereka yang telah terdidik di yayasan itu akan mendidikmu, mengajarkan ketrampilan, melindungimu dari eksploitasi… Ah, kau percaya kan bahwa mereka takkan “mengeksploitasi”mu? Mereka juga tak mengkorup “uangmu” kan? Mereka baik terhadapmu kan, adekku?

 

Hmm…maafkan jika aku terlalu banyak bertanya. Percayalah, itu hanya karena aku tidak cukup paham. Bagaimana aku bisa berempati jika tak cukup paham, adekku? Karena itu, benar, capailah citamu sebagai psikolog…

 

Adekku yang baik,

Kemarin, kudengar seorang yang kebetulan sedang memegang kekuasaan itu bilang, angka kemiskinan di negeri ini turun 0,5-1 % tiap tahunnya. Aku tidak terlalu paham angka-angka itu, indikator apa yang digunakan untuk mengukurnya. Tapi aku ingat, pada lelucon yang satir. “Orang miskin memang berkurang jumlahnya, karena mereka telah mati.” Begitu aku pernah dengar. Orang miskin dipermiskin, terutama secara struktural. Hingga tak mampu lagi bertahan dengan kemiskinannya itu. Tapi aku ingin bilang, pikiran itu terlalu muram, adekku.


Sementara itu, di ujung senja hari itu juga, di suatu perempatan—entah ke berapa—di Jogja, seorang anak kecil basah kuyup. Masih dengan kantung plastiknya. Pada setiap pengendara, yang tak cukup sabar menunggu. Berebut dengan hujan. 27 derajat Celcius…


Karena itu, benar, capailah citamu sebagai psikolog…

 

Salam sayang untukmu, adekku… ***

 

(dengan sentimentil, 11 Desember 2007)